10YearChallenge Versiku

masih kuat menanjak

Hari ini sedang trending tentang hastag #10YearChallenge di Instagram. Tidak mau kalah, saya juga mengupload sebuah video ke Youtube mengenai pengalaman saya ketika 10 tahun silam mendaki ke Gunung Merbabu.

Teman-teman bisa melihat video Youtube saya tersebut di link berikut ini >> https://youtu.be/CZkFC2dY2os

pemandangan dari atas puncak
Pemandangan dari atas puncak gunung

Mendaki Gunung Merbabu

Pendakian kali ini adalah pendakian kedua saya ke Gunung Merbabu. Kali pertama saya mendaki ke Gunung Merbabu adalah bersama teman-teman kampus.

Pendakian kali ini dilakukan bersama 3 orang, jadi total ada 4 orang yang mendaki, termasuk saya sendiri. Mereka adalah Melky, Rofid, dan Ibnu. Ide ini tercetus saja pada beberapa bulan sebelumnya. Berbekal 2 motor, kami berboncengan dari Yogyakarta menuju ke Selo. Kami mendaki Gunung Merbabu lewat jalur Selo.

Kami berangkat pada sore hari sekitar pukul 16.00 dari kos di Babarsari. Perjalanan tidak ada masalah. Lancar jaya hingga kami sampai ke camp pendakian di Selo pada pukul 19.00. Kami mampir ke rumah penjaga untuk melakukan pendaftaran sekaligus makan malam sekaligus pengumpulan tenaga untuk mendaki malam.

di pos 4 alias sabana 1
Berfoto bersama di Pos 4 / Sabana 1

Cuaca Dingin di Gunung Merbabu

Cuaca pada malam ini sedikit lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Hompimpah alaihom gambreng! Kami memutuskan untuk mulai naik, kalau tidak salah, mulai pukul 22.00. Perbekalan kami siapkan. Senter kami nyalakan.

Kami mendaki di malam hari dengan penuh hidmat. Jumat malam ini tumben tidak begitu banyak pendaki yang naik. Sepanjang perjalanan kami tidak pernah berjumpa dengan pendaki yang sedang naik atau bertemu pendaki yang sedang turun. Benar-benar tumben.

Kami banyak berdoa. Takut ada apa-apa di jalan. Kenapa saya begitu khawatir? Saya baru kali pertama mendaki Gunung Merbabu, ini adalah pendakian kedua kalinya. Untuk Melky, Rofid, Ibnu ini adalah pendakian pertama mereka. Wawww!!!

Saya banyak berdoa. Soalnya ini malam hari coy! Takut salah ambil jalan. Nyasar bisa bahaya. Apalagi kami cuma 4 orang. Perlengkapan pun seadanya.

Modal kami hanya berdoa.

persiapan sebelum mendaki
Persiapan sebelum mulai mendaki

Mitos Yang Sedikit Membuat Merinding di Gunung Merbabu

Perlu diketahui juga beberapa mitos di Gunung Merbabu yang perlu teman-teman ketahui. Bukan untuk menakut-nakuti tapi sekedar informasi saja supaya teman-teman tidak sembarangan ketika mengunjungi tempat baru.

Apa saja mitos yang ada di Gunung Merbabu?

  1. Harimau jadi-jadian

Mitos beredar bahwa di sekitar Gunung Merbabu sering ada suara auman harimau. Beberapa meyakini bahwa ini adalah suara dari harimau jadi-jadian. Namun masyarakat sekitar membantah bahwa mahluk gaib tersebut sudah tidak ada lagi.

  1. Watu gubug

Batu bertumpuk yang mirip dengan gua kecil di jalur pendakian Thekelan ini sering disebut dengan nama Watu Gubug. Konon lokasi ini adalah pintu gerbang kerajaan gaib di Gunung Merbabu. Uniknya, gua yang sempit tersebut bisa muat untuk dimasuki oleh 5 orang. Teman-teman bisa gunakan lokasi ini untuk berteduh apabila sedang turun hujan lebat.

  1. Pasar setan

Adanya pasar setan di Gunung Merbabu memang diyakini ada dan beberapa pendaki sering merasakan kehadirannya. Bagi yang mendapatkan gangguan dari makhluk halus dari pasar setan biasanya mereka si makhluk ini akan ikut naik ke atas tas punggung si pendaki. Akibatnya proses pendakian jadi terasa berat.

  1. Genderuwo

Di jalur pendakian juga sering muncul penampakan berupa genderuwo. Kamu bisa coba cari penampakan ini kalau lewat jalur Cunthel di Pos Bayangan 2.

  1. Kerajaan gaib di Puncak Gunung

Masyarakat setempat meyakini adanya kerajaan makhluk gaib di puncak gunung dengan prajurit berseragam merah dan hijau. Sangat disarankan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna merah atau hijau ketika mendaki Gunung Merbabu.

Semua mitos di atas boleh dipercaya boleh tidak. Semua tergantung teman-teman. Tapi yang pasti, jaga diri jaga mulut. Jangan suka ngomong sembarangan. Soalnya ini tempat baru, kita yang datang ke sana adalah tamu. Namanya tamu jangan sembrono. Nanti tuan rumanya bisa marah.

gunung merapi terlihat jelas
Gunung Merapi terlihat jelas dari atas Gunung Merbabu

Menggapai Puncak Gunung Merbabu, Puncak Kentengsongo

Waktu itu kami tidak sempat membawa tenda. Rencana awal adalah kami naik malam hari dan turun setelah menikmati sunrise. Ternyata di perjalanan menuju Sabana 1 hujan turun dengan deras. Lalu apa yang kami kenakan untuk menghindari hujan tersebut?

Kami mencari tempat teduh di sekitar pohon. Menggelar terpal. Menutupi badan dengan jas hujan. Lalu tidur melingkar supaya tidak kedinginan.

Paginya kami terbangun ketika hujan sudah reda dan mentari mulai muncul. Alhamdulillah. Kami berhasil melewati malam berat tersebut.

badai telah berlalu
Pagi hari setelah badai dan hujan 

Sekitar pukul 9.00 pagi berhasil menggapai puncak. Kami langsung mencari tempat di sekitar semak belukar yang terlindung dari angin kencang. Kami buka kompor gas, dan mulai merebus air untuk membuat kopi susu dan mie instan. Kami makan dengan puas pagi itu.

makan bersama di puncak kentengsongo
Makan bersama di Puncak Kentengsongo, Gunung Merbabu

Melky Terserang Asam Lambung

Kondisi badan tidak bisa kita prediksi akan jadi seperti apa. Ini yang terjadi dengan kawan saya Melky. Ia terserang sakit asam lambung sesaat kami turun dari puncak. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ia tersungkur sambil memegangi perutnya.

Mau tidak mau kita harus tetap turun apapun alasannya.

Alhamdulillah kami berhasil menggapai basecamp pada pukul 21.00 malam. Kami sendiri turun dari puncak pada pukul 10.00 pagi.

berfoto bersama sebelum turun gunung
Berfoto bersama sebelum turun gunung

Itulah cerita # 10YearsChallenge yang bisa ya bagi kali ini. Saya sudah upload video ketika berada di puncak gunung Merbabu di akun Youtube saya di link berikut >> Link Youtube. Teman-teman bisa melihat pengalaman saya pada tahun 2010 silam.

Selamat menonton.

Boleh juga baca cerita saya yang lain >> Kota Khartoum, Pertama Kali Menginjakan Kaki di Sudan

Leave a Reply