Aktif Lagi di Kompasiana

Saya memiliki akun di Kompasiana sejak tahun 2011. Akun ini saya buat karena waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya menulis artikel di blog. Ini akun saya: https://www.kompasiana.com/syahru34.

Namun kegandrungan tersebut hanya berjalan sekitar 1 tahun saja. Akun Kompasiana saya jarang saya isi dengan artikel. Alhasil dari periode 2011 hingga 2020 tidak banyak artikel yang saya tulis di Kompasiana. Saya lebih banyak menulis di blog pribadi saya di www.redhatblog.com

Tahun 2020 ini saya memutuskan untuk aktif lagi di Kompasiana. Saya ingin melebarkan sayap saya dalam dunia kepenulisan. Kompasiana adalah platform blogging yang memiliki komunitas yang kuat.

Ada banyak kegiatan yang diadakan oleh Kompasiana. Ada lomba menulis dengan berbagai tema, campaign, hingga penghargaan Kompasianer of The Year yang diadakan setiap tahun.

profil di kompasiana
Profil saya di Kompasiana

Pelanggan Kompas

Dulu waktu masih kuliah, saya aktif di organisasi kemahasiswaan. Organisasi ini berlangganan surat kabar Kompas. Setiap hari loper koran datang dan mengirimkan koran tersebut ke kantor sekretariat kami.

Bacaan gratis terbitan Kompas ini tidak saya sia-siakan. Setiap hari saya selalu membaca koran cetak tersebut. Tidak pernah saya absen membaca koran selama menjabat menjadi pengurus. Aktifitas ini memberikan keuntungan pada saya secara langsung maupun tidak langsung.

Adapun keuntungan membaca koran cetak adalah:

  1. Dapat mencium aroma kertas dan koran. Membaca sambil menikmati aroma koran tidak akan kita dapatkan kalau kita membaca bentuk pdf.
  2. Bisa dibolak-bolak semau kita. Kalau tidak suka dengan rubrik politik kita bisa skip dan lanjut ke rubrik ekonomi, sosial, budaya, olahraga, internasional ataupun rubrik lain yang kita sukai.
  3. Koran Kompas memiliki jumlah 32 halaman kalau tidak salah. Kita bisa berbagi bacaan dengan teman lain. Misalkan saya membaca halaman 4 lembar, teman lainnya membaca 4 lembar yang lain, dan seterusnya. Selanjutnya setelah kita selesai, kita bisa bertukar halaman tersebut dengan teman lain. Asik sekali.
  4. Ada berbagai macam jenis rubrik untuk mengasah otak yang bisa kita ikuti. Ada Teka-Teki Silang (TTS), Sudoku, dan berbagai jenis rubrik lain.
  5. Ada rubrik kartun, rubrik karikatur, komik, dan sebagainya.
  6. Ada rubrik fotografi. Fotografi pada tahun 2011 sedang begitu populer. Kita bisa belajar banyak tentang dunia fotografi dari rubrik ini.
  7. Koran yang sudah lama kita simpan dalam bentuk arsip. Dan kalau sedang bosan, kita bisa membuka dan membacanya lagi.
Ilustrasi Koran Kompas
Ilustrasi Koran Kompas.
Sumber gambar : Kompas

Survei Pembaca Kompas

Waktu itu ada kompetisi yang diadakan oleh Kompas. Saya lupa kompetisi apa kalau tidak salah Survei Pembaca Kompas. Saya mengirimkan beberapa berkas, copy identitas diri dan formulir serta survei yang sudah saya isi.  

Saya sendiri tidak berkeinginan untuk menang. Iseng-iseng berhadiah. Karena memang waktu itu sedang ada waktu luang, jadi saya isi saja survei pembaca tersebut. Survei tersebut berkisar tentang kepuasan kita sebagai pelanggan Kompas, rubrik apa yang paling disukai, bagian mana yang ingin ditambahkan, dan kritik saran. Semua saya isi tanpa ada satu nomor terlewat.

Hingga pada suatu saat tertentu saya mendapatkan surat undangan dari Kompas, yang dikirim melalui Dekanat untuk hadir dalam Forum Pembaca Kompas yang diadakan di Hotel Santika, Yogyakarta.

Selain undangan untuk mengikuti forum pembaca di hotel, saya juga mendapatkan satu bendel buku Ekpedisi Citarum, Ekspedisi Bengawan Solo, Ekspedisi Jejak Peradaban NTT, 4 buku lain yang saya lupa judulnya. Buku ini dikirimkan langsung dari Penerbit Kompas.

Kantor Litbang Kompas. Sumber gambar : Kompas
Kantor Litbang Kompas.
Sumber gambar : Kompas

Kompas Membuka Wawasan Saya

Banya hal yang saya dapatkan dengan membaca koran. Paling utama adalah pengetahuan. Rubrik yang saya gemari adalah rubrik internasional. Saya senang membaca hal-hal yang berbau luar negeri.

Mungkin hal inilah yang pada kemudian hari berhasil membawa saya bisa tinggal 5 tahun di luar negeri dan bekerja sebagai TKI. Berbagai kota dan desa bisa saya kunjungi karena ada sebuah keinginan dalam diri untuk menjelajah dunia ini.

Untuk anak saya yang kelak membaca tulisan ayahmu ini, jangan pernah berhenti membaca. Jangan pernah berhenti bermimpi.

Leave a Reply