Menjadi Buruh Migran Indonesia, Suka Duka dan Peluangnya

Sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI) yang berada di luar negeri, saya ingin mengulas kisah suka duka bekerja di luar negeri. Kalau ditanya, banyak sukanya atau dukanya, saya akan jawab banyak sukanya. Kenapa?

Logo BMI
Logo organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI)

Istilah Buruh Migran Indonesia (BMI) lebih dulu dikenal dengan nama TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Pak Presiden Jokowi mengubahnya menjadi istilah BMI. Saya tidak ingin mengulasnya karena menurut saya tidak penting untuk dibahas saat ini.

Baca juga >> 6 Produk Indonesia yang Masuk ke Sudan

BMI tersebar di seluruh dunia. Mulai dari tetangga terdekat kita Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, China, Jepang, Middle East (hampir di semua negara membentang dari Irak hingga Maroko), Nigeria, Eropa, dan Amerika. Profesinya pun bermacam-macam, ada yang menjadi pembantu rumah tangga, pekerja professional di oil company, FMCG company, trader export-import, dll.

Berfoto bersama teman-teman di Mesir
Berfoto bersama teman-teman di Mesir

Mejadi Buruh Migran Indonesia (BMI) bukan perkara mudah. Selalu ada suka duka selama tinggal di luar negeri. Diantaranya:

1. Jauh dari keluarga.

Bagi yang sudah memiliki anak dan istri, tinggal jauh dari mereka tentu saja sebuah siksaan. Kita harus menahan rindu. Kalau tinggal di kota, kita masih bisa berkomunikasi via Skype, WhatsApp, Line, atau Voip, dengan keluarga. Namun kalau lokasi kerjanya di tengah lautan, atau di tengah padang pasir, tentu saja harus menunggu sekian hari supaya bisa kembali ke daerah yang terjangkau sinyal kemudian menghubungi mereka. Dan inilah yang sering jadi alasan utama orang selingkuh. Jauh dari keluarga, kebutuhan seks tidak tersalurkan, akhirnya selingkuh. Saya akan membahasnya di tulisan yang lain mengenai hal ini.

2. Kesulitan komunikasi dengan rekan kerja atau penduduk setempat.

Perbedaan bahasa tentu saja memberikan peluang terjadinya kesalahan atau miskomunikasi. Masalah sepele namun karena kita tidak bisa menjelaskannya secara gamblang, maka seringkali membuat hubungan antar rekan kerja menjadi buruk.

3. Ngiler masakan Indonesia.

Tentu saja ini yang sulit terobati. Kadang kita kangen pecel, gudeg, rendang, soto namun tidak tersedia. Sebenarnya hal ini kita bisa akali dengan cara membawa bumbu instant dari Indonesia ketika pulang kampong.

Tinggal di luar negeri memberikan para BMI peluang untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh.

1. Peluang belajar Bahasa

Yang di Middle East tentu saja ia akan belajar Bahasa Arab, yang di Taiwan belajar Bahasa Mandarin, yang di Jepang belajar Bahasa Jepang, dan sebagainya. Selain bahasa setempat sangat dianjurkan untuk belajar bahasa internasional lain, seperti Bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, Spanyol, dsb.

Mengapa perlu?

Begitu kita tinggal di luar negeri biasanya cakrawala kita akan sebuah peluang kerja di tingkat internasional akan terbuka lebar. Sebagai contoh, saat ini saya tinggal di Sudan. Saat ini saya mampu melihat peluang-peluang kerja apa saja yang ada di sekitaran Middle East. Selain berlangganan newsletter dari portal website saya juga rajin mengontak kawan-kawan saya yang berada di negara lain. Inilah keuntungannya memiliki banyak teman.

2. Peluang usaha

Dengan menjadi BMI otak kita akan berputar bagaimana supaya uang yang kita peroleh ini utuh, dan kalau bisa bertambah. Buat apa kerja jauh-jauh kalau tidak ada nilai lebih yang bisa kita berikan untuk keluarga di rumah.

Sebagai contoh, teman-teman saya di Sudan mereka membuka usaha jualan gorengan, jualan bakso, jualan rokok, jualan tempe, dsb. Makanan ini dijual kepada teman-teman Indonesia yang ada di sini. Jujur sebagai orang rantau, tentu kita sering merasa kangen dengan masakan Indonesia seperti mie ayam, rendang, pempek, dll. Berjualan makanan Indonesia adalah peluang tersendiri.

Selain itu, ada juga barang-barang dari Sudan yang bisa kita komersilkan dan dijual di Indonesia. Sebagai contoh kurma muda, buah doum/zuriat, minyak zaitun, gum arabic, dan lain-lain. Barang-barang ini kita bawa dan kita jual di Indonesia. Tentu saja kita perlu mengambil untung seperlunya.

3. Peluang mencari jodoh

Tidak sedikit kenalan saya yang akhirnya menemukan jodohnya di tanah rantau. Entah itu antar sesama BMI maupun dengan penduduk setempat. Pastinya kamu tertarik kan menikah dengan wanita Middle East?

4. Peluang menjalin relasi

Peluang yang ketiga ini yang saya rasa belum banyak orang gali. Saya memiliki banyak teman dari Maroko, Egypt, Serbia, India, Saudi Arabia, dll. Saya masih sering mengontak mereka minimal sebulan sekali, via Facebook, WhatsApp, atau email, just say Hello dan tanya kabar keluarga mereka. Ada satu dua orang yang menjawab dan rajin menjaga kontak, namun ada juga yang tidak menjawab.

Saya anggap ini adalah sebuah investasi untuk masa depan saya, entah itu untuk anak ataupun cucu. Ketika mereka dewasa nanti saya bisa perkenalkan anak cucu saya ke teman-teman ini yang ada di negara lain. Just make a friend. Because I believe, Allah will give us rizqi if we keep silaturahim.

Sekian dulu nanti kita sambung lagi di tulisan selanjutnya. Selamat menanti berbuka puasa.

Leave a Reply