Merayakan Idul Adha di Egypt

Merayakan Idul Adha di Egypt

Lebaran Idul Adha di Egypt tahun 2015 ini jatuh pada hari Kamis, 17 September 2015. Dan disini, lebaran itu serentak. Tidak ada yang namanya duluan atau belakangan. Lha wong acuannya kan satu, wukuf di padang Arafah itu. Beda mazhab (Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi) tidak menjadikan orang Egypt berbeda soal penentuan hari raya. Karena memang pemerintah disini tegas. A ya A, B ya B. Kalau kamu tidak nurut ya di DOR.

Lebaran di komunitas Indonesia, khususnya wilayah Hayy ‘Ashir, difokuskan di Souq Sayarat. Sebuah pasar mobil khusus di hari Jum’at (sudah pernah saya bahas pula di tulisan-tulisan sebelumnya). Sholat Ied dimulai pukul 06.00 pagi di lapangan parkir mobil. Khutbahnya pakai bahasa Arab, saya cuma manggut-manggut saja karena gak mudeng apa yang dibicarakan si khotib. Hehehe

“Hoi! Dengerin khotbahnya itu. Main HP mulu!!”, teriak salah seorang jamaah kepada teman saya

Selesai sholat Ied kami pergi ke Masjid As Salam, sekitar 1 km dari souq sayarat. Disana kami beramah tamah dengan seluruh Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir). Bertemu dengan orang-orang KBRI, pelajar dan mahasiswa, serta orang dari beragam profesi. Silaturahmi seperti ini adalah oase pengobat rindu ketika kita jauh dari keluarga. Makan bersama, berkenalan dengan orang baru, atau sekedar cuci mata bisa kamu lakukan di acara ini.

Oya, untuk pemotongan hewan kurban tahun 2015, komunitas Indonesia memfokuskan pemotongannya di Sekolah Indonesia Cairo (SIC). Sebuah sekolah terpadu dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sayangnya saya tidak sempat kesana untuk melihat pemotongan hewan kurban. Ketika sedang dalam perjalanan kesana, kami dihadang polisi. Kami baru tahu rupanya ruksoh (STNK lah kalau di Indonesia) mobil kami mati. Untungnya polisi tidak menahan kami, karena sewaktu ditanya polisi (polisi menanyakan dengan bahasa Arab) kami menjawab dengan bahasa Inggris. Si polisi mungkin ogah berdebat dengan menggunakan bahasa Inggris, akhirnya kami dilepas. Lagian masa iya wajah saya yang imut begini punya potongan kriminil, kan tidak masuk akal. hehehe…

Karena tidak jadi pergi ke SIC alhasil saya tidak mendapat jatah daging kurban. Tapi memang Gusti Alloh Maha Penyayang, malam hari ada undangan sholawatan, dan diakhiri dengan makan bersama. Menunya sate kambing. Alhamdulillah 😀 😀 😀

Merayakan hari besar di negeri orang memang terasa bedanya. Terutama soal budaya. Di Indonesia, orang potong kurban di dekat masjid, disini orang potong kurban di pinggir jalan. Darahnya pun tumpah ke jalan-jalan. Ada juga yang memotongnya di halaman belakang rumah. Ya memang langsung dibersihkan sih, tapi rasanya risih juga. Tapi dengan belajar soal perbedaan begini, saya semakin sadar dan bersyukur. Idul adha di Egypt tahun 2015 ini amat berkesan.

Penyembelihan hewan kurban ala Mesir

Leave a Reply