Idul Fitri Sebentar Lagi, Pengalaman Berlebaran di Luar Negeri

Menjalani puasa di luar negeri, jauh dari keluarga, membuat rasa rindu terhadap keluarga jauh lebih terasa dibanding bila berpuasa di tanah rantau tapi masih dalam satu negara. Apalagi dengan perbedaan waktu 5 jam, perbedaan puasa itu kentara sekali. Di Indonesia, bila keluarga sudah berbuka, disini kita masih berpuasa. Di sini kita sedang berbuka, di rumah mereka sedang tidur. Disini kita sedang tarawih, di rumah mereka sedang makan sahur. Pokoknya, timing-nya tidak pernah ketemu. Tidak ada waktu untuk menelepon dan bertegur sapa,

“Sahur sama apa?”,
“Sudah buka atau belum?”,
“Jangan lupa sholatnya ya..”

Tidak ada sapaan untuk saling mengingatkan berbuka atau makan sahur bersama keluarga.

Sedih? Iya, memang.

Benar-benar sedih? Tentu tidak.

Toh pada waktunya, ketika umur kita bertambah, banyak hal yang kita lewati, pada akhirnya kita nanti akan berpisah dengan orang tua. Berpisah dalam arti, kita tidak lagi tinggal bersama mereka dalam satu atap. Apalagi kalau nanti sudah berkeluarga, akan ada banyak hal yang sebelumnya kita nikmati bersama keluarga, akan berganti, hidup kita, akan lebih banyak dihabiskan bersama pasangan. Itu pasti.

Apa lantas itu membuat kita sedih? Tentu saja tidak. Toh hidup adalah soal perjalanan. Ada satu waktu kita berjalan beramai-ramai, berjalan sendiri, bertemu lagi dengan orang lain yang seperjalanan, berpisah lagi, bertemu lagi, begitu seterusnya. Ada kalanya jalanan itu terjal, jalanan itu mulus, ada pengkolan, ada tanjakan, ada kubangan, ada panas, ada hujan, banyak orang, kadang pula penuh kesepian.

Tak peduli dengan siapa engkau berjalan, pastikan perjalananmu menyenangkan.

Lebaran 4 hari lagi.

Tidak terasa sudah setahun lebih tinggal di Egypt ini. Menikmati masa-masa berbuka dan sahur bersama sahabat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak ada kolak, karena memang gula merah alias gula jawa tidak diproduksi di sini. Juga tidak ada yang namanya acara menabuh bedug menjelang berbuka, karena memang disini tidak ada bedug. Betul-betul cross culture yang sangat berbeda.

Jadi, apa yang sudah engkau siapkan, sahabat? Rencana liburan bersama keluarga? Silaturahmi ke handai taulan di luar kota? Atau naik gunung, atau sekedar piknik bersama teman-teman dekat? Itu semua hanya rencana fisik.

Apa yang sudah engkau siapkan untuk jiwamu? Sudahkah engkau berdamai dengan masa lalumu, bersahabat baik dengan harimu, dan berani ambil resiko untuk petualangan barumu?

Hidup adalah perjalanan, men. Nikmatilah.

Leave a Reply