Merayakan Idul Fitri di Egypt

An Egyptian woman browses traditional Ramadan lanterns called "fanous" ahead of the holy fasting month of Ramadan in Cairo, Egypt

Terlambat dua (2) minggu untuk menceritakan pengalaman saya merayakan Idul Fitri di Egypt.
Better late than never.

Jum’at, 17 Juli 2015. Hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Semua orang bergembira setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Orang-orang pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga dan handai taulan.

Bagi saya sendiri, ini adalah kali pertama merayakan Idul Fitri di negara orang. Pun genap 29 hari tidak berbuka bersama dan makan sahur bersama keluarga. Ada yang kurang rasanya. Namun selalu ada syukur di manapun kita berada.

Perayaan Idul Fitri di Egypt secara garis besar seperti ini.

Tidak ada takbiran di malam Idul Fitri.

Di malam Idul Fitri masjid nyaris sepi tidak ada gema takbir, masjid pun tidak seramai ketika malam tarawih. Malah jalanan yang kelihatan lebih ramai. Ada rasa syukur juga sih karena tidak ada gema takbir, perasaan rindu kampung halaman menjadi tidak terasa.

Tidak ada ketupat, untung ada opor ayam, rendang juga ada. Semua dimasak sendiri.

Ya memang berbeda kebudayaan sih ya, wajar lah orang di Egypt tidak kenal yang namanya makanan ketupat. Mau bikin ketupat dari mana coba, pohon kelapa aja nyaris tidak ada. Mau bikin dari daun kurma, alah orang Egypt sepertinya tidak bisa manjat pohon deh. Belum pernah saya lihat orang Egypt naik pohon.

Alhamdulillah kalau opor ayam dan rendang sapi ada. Dari mana? Beli? Oh yo ndak to, masak sendiri dong. Hidup merantau membuat kita harus serbabisa segala hal. Mulai dari memasak makanan yang sebelumnya belum pernah kita coba. Kegiatan memasak ini berhasil karena dukungan dari teman-teman mahasiswa Al Azhar. Resep rahasia memasak ini saya dapat dari mereka. Hehehe

Tidak ada silaturahim dan maaf-memaafkan di Egypt

Di hari raya Idul Fitri saya tidak melihat ada orang Egypt berkunjung ke rumah tetangganya. Jadi ya, mereka hanya bertemu di jalan dan di tempat sholat Ied, cipika-cipiki (cipika-cipiki adalah hal lumrah di Egypt, pria dengan pria, wanita dengan wanita), lalu bertanya kabar dan basa-basi ini itu.

Dan soal maaf-memaafkan, nyaris tidak ada disini. Kalau di Indonesia kan lumrah ya, kita sowan ke rumah tetangga, ke rumah sesepuh, ke rumah orang yang berpengaruh, sungkeman dan meminta maaf kalau kita banyak salah. Di Egypt, orang meminta maaf pun tidak ada. Mereka hanya mengucapkan Kullu sanah wa inta thoyib atau Kullu ‘amr wa antum bi khoir. Hanya itu saja.

Persoalan meminta maaf ini pun jarang sekali saya dengar di Egypt. Enam (6) bulan di Egypt, hanya 1 orang yang pernah meminta maaf di depan muka saya. Itu pun kayaknya terpaksa sekali. Entah kenapa orang Egypt sangat susah meminta maaf ke orang lain.

Gang-gang kampung dihias macam mau 17 Agustusan

Nah ini yang seru. Gang-gang kampung dihias lampion, bendera warna-warni, petasan disana-sini. Mirip sekali dengan 17-an. Pokoknya, Ramadhan dan lebaran di Egypt ramai mirip 17an. Ada juga musik disko yang diputar di sudut-sudut kampung pasca sholat Ied.

Sholat Ied di lapangan parkir

Sholat Ied dimulai pukul 05.00 pagi waktu Egypt. Kebetulan waktu sholat Subuh disini jam 3.00 pagi, jadi jam 4.30 pun sudah terang. Dengan memakai pakaian terbaik dan parfum terwangi kami menuju lapangan parkir. Ya, kami sholat di lapangan parkir.

Pada hari biasa, khususnya hari Jum’at lokasi ini adalah pasar mobil bekas terbesar di Egypt. Tidak ada alas sujud semacam karpet atau terpal, bahkan penjual koran seperti yang kita lihat di Indonesia, yang khusus menjajakan sebagai alas sholat Ied, tidak ada. Jadi kami harus membawa sendiri sajadah kami sendiri. Bagi yang tidak punya sajadah ya harus rela sholat beralaskan tanah. Tapi ndak juga, masih banyak orang baik yang bersedia membagi sajadahnya dengan kita.

Tidak ada orang sholat menggunakan sarung

Orang Egypt kalau sholat memakai celana panjang dan baju gamis. Mayoritas mereka memakai jalabiya (istilah dari Egypt). Sebuah pakaian terusan mirip daster dengan warna polos (puih, abu-abu, biru, hitam, dll). Orang Indonesia biasa menyebutnya dengan istilah baju gamis. Tidak ada orang memakai sarung karena anggapan orang Egypt, dan umumnya orang Arab, orang yang memakai sarung adalah orang yang habis melakukan hubungan suami istriJadi tidak etis, pakaian bekas sunnah rasul kok dipakai buat sholat. Hehehe..

Sarung hanya dipakai oleh orang-orang dari Indonesia. Entah kenapa seperti itu, orang Malaysia pun tidak ada yang memakai sarung. Unik memang, sarung adalah barang langka di Egypt.

Yap, itulah cerita tentang bagaimana saya merayakan Idul Fitri di Egypt. Seru memang. Kita melihat hal-hal baru yang tidak pernah kita lihat di Indonesia. Lalu, bagaimana cerita Idul Fitri di tempat kamu berada, seperti apa? Coba ceritakan 😀

No Comments

Leave a Reply