Bagaimana Rasanya Tiga Bulan Tinggal di Egypt

tinggal di egypt

Hari ini, Jum’at, 1 Mei 2015, adalah hari saya yang ke 103 tinggal di Egypt. Adalah waktu yang sebentar karena memang tidak terasa, tahu-tahu udah 3 bulan. Juga waktu yang cukup lama bila dibanding kita cuma ikut jalan-jalan atau tur selama seminggu di Egypt. Hari libur di Egypt adalah hari Jum’at. Jadi rasanya hari begitu cepat. Tidak ada namanya “I hate monday” karena memang hari Senin sudah masuk tengah minggu, 3 hari lagi akhir pekan.

Tinggal di Egypt bukan dalam rangka tur wisata dan juga bukan kuliah/belajar membuat saya tahu bagaimana karakter orang Egypt bila bekerja bersama. Bagaimana kultur mereka, cara mereka bekerja, daya tangkap, daya imajinasi, dan banyak point yang saya peroleh. Beberapa point yang saya dapatkan adalah:

  1. Orang Egypt hobi minum teh. Itu benar. Celakanya adalah mereka minum teh di jam kerja, sambil ngobrol dengan kawannya. Datang ke kantor jam 9 pagi, 1 jam pertama untuk ngobrol dan minum teh. Baru deh mereka kerja. Alhasil ujungnya dia jadi gak produktif. Kerja cuma 8 jam sehari, 1 jamnya untuk minum teh dan ngobrol. Oya, jam kerja di perusahaan tempat saya bekerja dimulai dari jam 9.00 pagi sampai jam 17.00 sore.
  2. Orang Egypt kalau kerja harus disuruh, baru mereka gerak. Daya inisiatif mereka sedikit dan tidak peka. Pernah saya suruh dia untuk bikin modifikasi mesin. Saya suruh mereka dengan bahasa Inggris, bahasa isyarat, bahasa tubuh dan entah bahasa tarsan apa, mereka berhasil memodifikasi mesin. Namun hasilnya kurang rapi. Well, kurang rapi gak papa, yang penting jalan di mesin. Ehh.. tahu-tahu waktu dicoba dijalanin, si mesin gak jalan. Saya suruh lepas, suruh modifikasi di waktu libur hari Jum’at. Waktu hari Sabtunya, waktu masuk kerja, ehh.. itu mesin masih utuh. Aduh.. duh..
  3. Orang Egypt keras kepala dan tidak pernah mau mengalah. Waktu meeting dengan department head masing-masing divisi, kami dihadapkan pada suatu masalah, masalah kecil tentu saja.
    Point: “Kenapa tabung LPG ditaruh di luar gedung dan dijemur?”.
    Kepala Gudang: “Itu tabung mau dikirim untuk diisi ulang di gas station“.
    Point ini saya sangkal, sehari sebelumnya sudah saya tes, dan itu tabung ada isinya.
    Kepala Gudang ngelak lagi: “Ya udah, kasih saya rak tabung LPG. Sini, Kepala Teknik, buatin saya rak itu”.
    Kepala Teknik: “Dulu kan udah dibuatin, sekarang dimana itu rak?”.
    Kepala Gudang: “Gak tau, ilang kayaknya. Kapan mau dibuatin?”
    Kepala Teknik: “Sini kasih saya desain rak-nya”.
    Kepala Gudang: “Bikin sendiri lah, kan gampang”.
    Kepala Teknik: “Ye.. enak aja. Emang kerjaan saya cuma bikin rak gas ….”.
    Begitu seterusnya sampai panjang. Padahal ya solusinya gampang kalau masing-masing pihak mau berkepala dingin.
  4. Orang Egypt menunggu bukti dulu, baru ia akan tunduk. Masih soal modifikasi mesin. Pernah saya coba ngotak-atik mesin, modifikasi dikit-dikit, hasilnya jelek. Ehh.. esok harinya itu hasil modifikasi udah dilepas, dikembalikan seperti semula. Ya namanya masih trial and error kan harus diketahui dulu hasilnya seperti apa, kendalanya dimana. Ehh.. itu langsung dilepas, tidak dibantu mikirin lagi solusinya kaya apa. Sekarang sih hasilnya sudah bagus, mereka akhirnya mantuk-mantuk dan bilang Yes. This is good, Sir.
  5. Orang Egypt gengsinya tinggi dan pantang meminta maaf. Kejadian ini terjadi di luar kerjaan, tepatnya waktu perjalanan menuju pabrik. Orang senggolan mobil. Jelas-jelas si A yang salah karena main serobot, ia malah nyalahin B karena tidak mau memberi jalan. Si B yang tahu ia bener ngotot nyalahin A. Karena sama-sama ngotot gak ada yang mau ngalah, ditambah parkir mobil sembarang di jalan, malah bikin macet. Macetnya pun karena alasan sepele. Duhh..
  6. Tidak semua orang Egypt dan umumnya orang Arab rajin sholat. Buang pikiran kalian soal orang Arab itu alim dan pandai agama. Yang kasar, busuk, licik pun banyak. Ada pepatah yang bilang: “Kalau belajar agama pergilah ke Arab, kalau belajar akhlak pergilah ke Indonesia“. Hal itu benar-benar saya rasakan disini.
Masjid di Mesir
Masjid di Mesir

Dari banyak kekurangan mereka gak adil rasanya kalau tidak mengatakan bagusnya orang-orang sini. Bagusnya orang sini adalah:

  1. Sholat sunnahnya rajin. Bagi mereka yang datang ke Masjid sebelum iqamat, 90% mereka sholat sunnah.
  2. Orang rajin baca Qur’an di bus, kereta api, bahkan sambil menunggu bis di halte. Di mobil, kantor, minimal ada 1 Qur’an.
  3. Masalah pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, gedung) orang Egypt bisa kerja cepat. Dalam 2 minggu saja, jalan yang saya lewati menuju pabrik, dari 3 lajur sekarang sudah 5 lajur. Setelah diketahui rupanya ini karena pemerintahnya sebagian besar dipimpin oleh pihak militer.

Itulah sebagian hal-hal yang saya temui selama 3 bulan tinggal di Egypt. Ini hanya penilaian saya terhadap sebagian orang lho ya, kalau ada yang merasa terdeskritkan, saya mohon maaf 😀

 

Baca juga tulisan lainnya tentang Egypt di sini:

Masjid Amr Ibn al As, Cairo. Masjid pertama di benua Afrika

Melihat Danau Qarun di Fayoum

Leave a Reply