Ingin Tahu Rasanya Berbuka Puasa di Sudan?

fasting in sudan

Puasa sudah memasuki hari ke 29. Benar-benar tidak terasa. Dan baru saya sadari, hampir separuh bulan puasa ini saya habiskan untuk buka puasa bersama di rumah teman. Kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang rasanya berbuka puasa di Sudan?

Buka puasa bersama di Sudan sangat menarik. Hampir setiap orang akan berlomba mengajak kita datang ke rumahnya. Bahkan, rekan 1 kantor saya menawarkan buka puasa selama 1 bulan penuh. Silakan datang semau kita. Free 1 bulan penuh.

Kali pertama, saya diajak oleh Amir, Sudanese yang bekerja di IT Dept tempat perusahaan saya bekerja. Begitu mobil parkir dan kami masuk ke halaman rumahnya, keluarga Amir sudah menunggu. Ya, orang Sudan memang sangat menghormati tamu. Di meja tersaji tersaji aneka minuman. Di tikar, tersedia makanan beraneka ragam. Mereka sangat senang ada orang datang dan ikut berbuka puasa. Apalagi orang asing. Waktu itu saya datang dan langsung diperkenalkan dengan saudara-saudara Amir. Mereka semua terlihat sangat bahagia ada orang asing mau datang ke rumah mereka dan ikut berbuka puasa.

Kalau cerita tentang berbuka puasa di Sudan, makanan yang disuguhkan pun adalah makanan ala Sudan. Seperti apakah menunya? Kamu bisa lihat gambar di bawah ini.

menu berbuka puasa di sudan
Menu berbuka puasa di Sudan

Buka puasa diawali dengan memakan Asidah. Setelah beberapa kali suap lalu dilanjutkan dengan makanan lainnya. Apa saja?

  • Roti : roti gandum biasa
  • Ful : semacam selai tapi bahannya dari kacang fava beans. cara makannya dicocol dengan roti
  • Asidah : bentuknya seperti puding. bahannya dari tepung terigu. cara makannya dengan cara disiram kuah asidah lalu disendok seperti makan bubur sumsum.
  • Tamiya : bentuknya bulat seperti perkedel. bahannya dari daun-daunan yang digiling halus lalu dicampur bumbu, dibentuk, lalu digoreng.
  • Pizza-mie : pizza yang dibuat dari Indomie.
  • Zalabia : kalau di Indonesia kita sebut kue golang-galing. kalian tau kan?
  • Roti isi daging
  • Kurma
  • Cookiez

Orang Sudan tidak terbiasa mengawali buka puasa dengan minum air. Bagi mereka, minum air menandakan bahwa kita menyudahi makan kita. Selain itu, minum air di awal atau di tengah proses makan akan membuat perut menjadi cepat kenyang. Makanya minumnya terakhir. Supaya apa? Supaya makannya banyak. Hehehe…

Makan selesai, lalu dilanjutkan dengan shalat Magrib. Shalat Magrib ini dilakukan secara berjamaah di halaman rumah. Tikar digelar, lalu masing-masing mengambil air wudhu dan shalat bersama. Meskipun rumahnya di sampung masjid, tetap saja shalatnya di halaman rumah. Entah apa alasannya. Saya belum sempat bertanya.

Selesai shalat Magrib, biasanya kita disuguhi minuman kopi atau teh manis. Ingat, di Sudan tidak ada namanya es teh. Yang namanya minuman teh ya harus diminum dalam keadaan panas. Budaya minum teh panas ini bukan hanya di Sudan, namun juga di seluruh wilayah Middle East dan North Africa. Selain kopi atau teh manis, kita juga disuguhi dengan cemilan, seperti zalabia, kacang, atau cookies. Semua menu cemilannya pasti manis. Kalau tidak bisa jaga diri, selesai Ramadhan kita malah kena diabetes.

Oh ya, dalam adab berbuka puasa bersama di Sudan, tempat berbuka puasa lelaki dan perempuan terpisah. Para lelaki berbuka di halaman rumah, bila hujan maka dipindah tempatnya ke ruang tamu. Sedangkan perempuan dan anak kecil berbuka di dalam rumah, atau di dapur. Tempat berbukanya tidak pernah dalam satu lokasi. Anak-anak diperbolehkan ikut berkumpul bersama bila acara makan sudah selesai.

Selesai berbuka puasa. Kita bisa langsung berpamitan pulang. Ketika akan pulang inilah biasanya kita diperkenalkan dengan anggota keluarga perempuan. Di Sudan, bersalaman dengan perempuan bukan hal yang luar biasa. Sama seperti di Indonesia, tidak ada masalah bersalaman dengan perempuan bukan muhrim. Kecuali perempuannya memakai niqab, maka kita harus tahu diri. Kalau tidak dipersilahkan bersalaman, maka jangan mengulurkan tangan. Cukup dengan merapatkan kedua telapak tangan sebagai tanda menghormati.

Saya sangat bahagia dengan sambutan keluarga teman saya ini. Kami begitu diperlakukan selayakanya seorang tamu jauh. Diberikannya semua jenis makanan terbaiknya. Untuk teman-teman di Indonesia, kegiatan seperti ini layak ditiru.

Lihat juga cerita saya tentang warung makan mie ayam di Sudan di sini >>

Warung Mie Ayam Bu Rumi di Sudan

Leave a Reply