Jangan Berhenti Menulis

jangan-berhenti-menulis

 

Asy-Syaukani pernah berkata “Sejumlah ulama menasehatiku: ‘Jangan berhenti menulis, walaupun hanya dua baris sehari’. Aku pun mematuhinya, dan kini aku dapat memetik jawabannya”.

Pesan yang tersirat tersebut merupakan makna dari hadits Nabi SAW: “Sebaik-baik perbuatan adalah yang dilakukan seseorang secara terus-menerus walaupun sedikit“.

Tetesan demi tetesan dari sebuah air di sebuah gua akan membentuk aliran sungai yang deras.

Tidakkah kau lihat seutas tali yang karena lama mengikat pinggang bukit telah mengguratkan bekas.

Segala sesuatu pasti bermula dari yang kecil. Yang bila kita tekun mengerjakannya maka lama-lama akan menjadi sesuatu yang besar. Seperti kata pepatah: Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Segala sesuatu tidak bisa dikerjakan sekaligus, dalam waktu yang singkat. Bila pun dikerjakan dalam waktu singkat maka biasanya hasilnya kurang memuaskan.

Begitu juga dengan menulis. Menulislah setiap hari. Kalau bisa setiap waktu. Bisa menulis diary, catatan kecil, catatan quote, buku agenda, bahkan menulis skripsi. Begitu ada waktu, tulis, begitu ada waktu, tulis. Biar lama-lama menjadi kebiasaan.

Kalau kau ingin mengenal dunia, membacalah. Namun bila kau ingin dikenal dunia, menulislah.

Ilustrasi menulis dengan menggunakan bulu angsa
Ilustrasi menulis dengan menggunakan bulu angsa

Begitulah kata seorang penyair. Bahkan Al Ghazali mengatakan:

Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar maka MENULISLAH – Al Ghazali.

Itulah ungkapan betapa pentingnya menulis. Menulis akan membuat kita dikenal dunia. Baik ataupun buruk. Tulisan Charles Darwin yang kontroversial, Karl Marx dengan paham komunisnya, Adam Smith dengan paham sekulerismenya. Mereka semua menulis, sehingga dikenal dunia. Bahkan merubah peradaban.

Menulis adalah upaya mengukir sejarah. Sejarak gemerlap ataupun sejarah kelam. Tak bisa dibayangkan apabila orang-orang pada zaman Nabi tidak menulis, maka tidak akan ada Al Qur’an seperti sekarang. Apabila para cendekiawan zaman Sriwijaya dan Majapahit tidak menulis di batu, maka kita tidak akan pernah tahu bahwa 2 kerajaan besar itu pernah ada dan menyatukan Indonesia.

Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikat,

Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat,

Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang,

Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya.

Baca juga tulisan saya yang lain >> Sebarkan Kebaikan Meski Hanya 1 Ayat

1 Comment


  1. Ini merupakan kalimat yang sangat menginspirasi

    Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikat,

    Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat,

    Adalah sebuah kebodohan jika engkau berburu kijang,

    Lalu kau biarkan dia lepas pergi dengan hewan lainnya.

    Reply

Leave a Reply