Kehidupan Bermasyarakat di Sudan

Kehidupan bermasyarakat di Sudan sangat dipengaruhi oleh budaya Arab dan budaya Afrika itu sendiri. Sudan adalah jembatan antara Arab dan Afrika. Jembatan ini tergambar jelas, terutama antara Sudan Utara dan Sudan Selatan. Sudan utara amat kental dengan ke-arab-annya sedangkan Sudan Selatan cenderung kental dengan ke-afrika-annya.

Baca juga >> Kondisi Negara Sudan Saat Ini

Kelas dan Kasta

Orang Sudan Utara memiliki akses pendidikan dan kesempatan ekonomi yang lebih baik dibanding orang di Sudan Selatan. Di selatan, kebanyakan masyarakat kelas atas adalah orang Kristen dan bersekolah di sekolah misionari. Di beberapa suku di Sudan, kelas dan status social secara tradisional ditentukan oleh kelahiran mereka, anak siapa, dari suku mana, dan sebagainya.

Di Darfur, mantan pandai besi (ironworkers) adalah strata terendah dalam kelas sosial dan ia tidak diperbolehkan menikah dengan kasta lainnya.

Baca juga >> Hal-hal yang perlu kamu ketahui tentang pernikahan di Sudan

Pernikahan di Gedung Sewa Yang Mewah di Sudan
Pernikahan di Sudan dilakukan di gedung gedung mewah bagi orang yang mampu

Simbol dan Strata Sosial

Dalam hal strata sosial, kepemilikan harta merupakan salah satu parameter supaya dihormati oleh orang-orang di lingkungan sekitar. Di beberapa suku di selatan, jumlah ternak dari sebuah keluarga adalah lambang kekayaan dan status.

Pakaian model barat (celana dan kaos/kemeja) sudah umum dipakai di perkotaan. Wanita muslim di utara mengikuti tradisi Islam yaitu memakai penutup kepala dan badan hingga kaki. Mereka membalut pakaian tersebut dengan tobe, kain semi transparan yang melapisi pakaian dalam mereka.

Para pria menggunakan baju gamis yang disebut jallabiyah. Untuk penutup kepala memakai peci atau turban. Meskipun sebenarnya saat ini budaya ini mulai luntur. Anak-anak muda mulai menikmati cara berpakaian ala modern yaitu hanya menggunakan jeans dan kemeja/kaos. Pakaian jallabiyah hanya dipakai ketika hari Jumat atau ketika ada acara penting.

Tattoo wajah atau gurat wajah adalah tradisi kuno di Sudan. Di masa modern, tradisi ini mulai berkurang. Masing-masing suku memiliki tandanya sendiri. Ini menunjukkan seberapa berani seorang pria atau seberapa cantik seorang wanita. Suku Shilluk memiliki garis hasil guratan di dahi mereka. Suku Nuer memiliki 6 garis paralel di dahi mereka, dan suku Ja’aliin memiliki garis tanda di dagu (cheeks) mereka.

Di Sudan bagian selatan, wanita terkadang memiliki tanda guratan di sekujur tubuh mereka untuk menunjukkan status perkawinan dan jumlah anak yang mereka miliki. Di bagian utara, seorang wanita memiliki tato di bawah bibir mereka.

Baca juga >> Sejarah Bangsa Sudan

Orang Sudan memakai pakaian jallabiah
Orang Sudan memakai pakaian jallabiah

Perayaan dan Hari Raya

Hari perayaan kemerdekaan di Sudan adalah tanggal 1 Januari. Ada juga hari revolusi yang diperingati pada tanggal 30 Juni. Hari yang lain berupa hari raya keagamaan seperti Natal Koptik, Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabawi.

Kesenian dan Kemanusiaan

Dukungan pemerintah terhadap kesenian cukup diakui di Sudan. Di kota Khartoum terdapat sebuah gedung pertunjukan yang memainkan beberapa teater dan pertunjukan lainnya. Ada juga lembaga yang namanya The College of Fine and Applied Arts, yang juga berlokasi di Khartoum, menghasilkan beberapa seni grafis.

Literatur

Literasi asli dari orang Sudan adalah tradisi oral. Tradisi menyebarkan berita dilakukan secara oral/verbal dibanding secara tertulis. Baik itu berupa cerita, mitos, maupun peribahasa.

Tradisi menulis berasal dari Arab utara. Penulis di Sudan juga dipengaruhi oleh budaya dari Arab.

Sudan memiliki banyak penulis kenamaan, sebut saja Tayeb Salih, penulis dua (2) novel: The Wedding of Zein dan Season of Migration to the North. Kedua novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Penulis puisi kontemporer dari Sudan menggabungkan budaya Afrika dan Arab menjadi satu. Pembaca puisi yang cukup terkenal adalah Muhammad al-Madhi al-Majdhub.

Seni Kerajinan

Sudan bagian utara dan sebagian wilayah Omdurman, dikenal sebagai pengrajin perak, pemahat gading, dan pengrajin kulit. Di Sudan selatan, tukang kayu membuat kerajinan pahatan dari kayu. Di gurun pasir bagian timur dan barat Sudan, kebanyakan perajin membuat barang-barang yang fungsional, seperti senjata berupa pedang dan tombak.

Di luar seniman kontemporer tadi, dikenal juga yang namanya penulis tulisan, kaligrafi, dan fotografi. Ibrahim as-Salahi, salah satu seniman Sudan diketahui menguasai 3 jenis seni tersebut.

Pertunjukan Seni

Musik dan tari adalah seni yang tidak dapat dipisahkan dari budaya orang Sudan. Keduanya biasa dipakai dalam seni pertunjukan dan ritual agama. Di Sudan bagian utara, musiknya kebanyakan mendapat pengaruh dari budaya Arab dan menyertakan kisah-kisah dari Al Qur’an. Di Sudan bagian selatan, musik aslinya lebih berat dan ritmenya lebih komplek.

Salah satu ritual yang menggunakan musik adalah zar, sebuah upacara yang mana pada upacara tersebut seorang wanita akan kerasukan roh. Ini adalah sebuah upacara yang unik yang bisa berlangsung hingga 7 hari. Sekelompok wanita akan memainkan drum dan rattles, yang akan membuat seorang wanita menari hingga ia dirasuki oleh roh halus.

Sumber: http://www.everyculture.com/Sa-Th/Sudan.html

Leave a Reply