Kondisi Negara Sudan Saat Ini

Seorang warga sedang membangun rumah dari lumpur

Kondisi negara Sudan saat ini boleh dibilang sedang berada di ujung tanduk. Tidak lain tidak bukan karena memang sudah tiga (3) bulan terjadi demo di sana-sini menuntuk pemerintah yang berkuasa untuk segara turun.

Oh iya, tulisan ini merupakan terjemahan yang saya peroleh dari website >> Every Culture. Tulisan ini adalah seri lanjutan dari >> Sejarah Bangsa Sudan yang saya tulis sebelumnya.

Peta negara Sudan
Peta negara Sudan

Saya mencoba menguliknya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa hal tentang sejarah negara Sudan yang perlu diketahui antara lain sebagai berikut.

Identitas Nasional Negara Sudan

Orang Sudan cenderung memperkenalkan suku mereka dibanding bangsa Sudan sendiri. Batas negara tidak mengikuti pembagian geografis dari masing-masing suku, dan seringkali menyebar hingga negara tetangga.

Sejak kemerdekaan, Muslim di utara berusaha untuk membentuk identitas bangsa Sudan berdasarkan bahasa dan budaya Arab, dengan mengorbankan budaya selatan. Hal ini membuat marah banyak suku di selatan dan menyebabkan perpecahan dibanding persatuan. Di selatan, bagaimanapun, perang melawan utara telah membangkitkan semangat persatuan sejumlah suku yang berbeda.

Kepadatan penduduk di negara Sudan dan Sudan Selatan
Kepadatan penduduk di negara Sudan dan Sudan Selatan

Hubungan Etnis di Sudan

Lebih dari 100 suku di Sudan hidup bersama secara damai. Bagaimanapun juga, hubungan antara utara dan selatan memiliki sejarah kebencian hingga masa kemerdekaan. Sudan bagian utara mayoritas dihuni orang Arab, dan orang-orang di bagian selatan membenci pergerakan negara “Arab”. Mengapa? Karena orang utara mencoba mengganti bahasa asli dan budaya dengan Arab. Konflik ini telah membawa pertumpahan darah dan menuju perang sipil.

Distribusi etnis di Sudan
Distribusi etnis di Sudan

Urbanisasi, Arsitektur, dan Tata Ruang

Hanya 25% dari populasi Sudan yang tinggal di perkotaan. Sisanya 75% tinggal di perdesaan. Kota Khartoum begitu mempesona dibanding kota lain. Pada ruas tertentu, jalanan di kota ini memiliki 3 jalur dan taman di sampingnya. Khartoum juga merupakan rumah bagi ribuan imigran dari desa yang mencari pekerjaan di kota.

Sebelum Sudan pecah menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan, ada 1 kota lagi di bagian selatan. Kota tersebut adalah kota Juba yang saat ini menjadi ibukota negara Sudan Selatan. Kota ini dekat dengan perbatasan Uganda, Kenya, dan Republik Demokratik Kongo. Kota Juba memiliki jalanan yang lebar namun berdebu dan dikelilingi oleh padang rumput. Kota Juba memiliki rumah sakit, sekolah, dan universitas yang baru dibangun.

Suasana kota Juba, Sudan Selatan
Suasana kota Juba, Sudan Selatan

Kota lainnya adalah Kassala. Kassala merupakan kota perdagangan terbesar di bagian timur Sudan. Lalu ada kota Nyala di Sudan bagian barat, kota Port Sudan yang mana merupakan kota pelabuhan dan gerbang perdagangan menuju Sudan, kota Atbara di utara, dan kota Madani di bagian Sudan tengah.

Arsitektur yang ada di negara Sudan begitu beragam dan menggambarkan iklim regional dan budaya setempat. Di bagian utara yang merupakan kawasan gurun, dinding rumahnya tebal yang berasal dari lumpur, atapnya berbentuk datar dan dihias dengan pintu gerbang (pengaruh budaya Arab). Di banyak negara, rumah dibuat dengan batu bata dan dikelilingi halaman. Di bagian selatan, rumahnya berbentuk bulat dan atap berbentuk kerucut, disebut juga dengan nama ghotiya. Suku berpindah-pindah alias nomad yang tinggal di Sudan tidur di tenda. Bentuk dan material tendanya beraneka ragam, tergantung suku. Suku Rashiaida misalnya, menggunakan rambut kambing, sedangkan suku Hadendowa menghias tendanya dengan getah palem.

Seorang warga sedang membangun rumah dari lumpur
Seorang warga sedang membangun rumah dari lumpur

Makanan dan Ekonomi Masyarakat Sudan

Makanan dalam kehidupan sehari-hari

Dalam kesehariannya, masyakarat Sudan memulai harinya dengan secangkir teh. Makan pagi atau sarapan dilakukan pada jam-jam 10 atau 11 siang. Mereka sarapan dengan ful, salad, dan roti. Untuk keluarga yang berkecukupan, mereka bisa menambahkan olahan daging dan ayam pada menu makan mereka.

Milet adalah makanan pokok dan disajikan dalam bentuk bubur atau biasa disebut asida, atau selembar roti dengan nama kisra. Sayuran disajikan dalam bentuk rebusan atau salad. Ful adalah makanan dari kacang-kacangan yang dimasak bersama dengan minyak zaitun atau minyak biji bunga matahari.

Orang nomad di bagian utara mengandalkan produk susu dan daging dari unta. Pada umumya harga daging itu mahal sehingga jarang dikonsumsi. Domba dikonsumsi ketika hari raya kurban atau ketika sedang ada pesta, seperti pernikahan atau menyambut tamu. Usus, paru-paru, dan hati disajikan dengan bubuk cabe atau biasa disebut dengan nama marara.

Memasak dilakukan di halaman rumah pada panggangan timah, akanoon, dengan menggunakan arang.

Teh dan kopi adalah minuman favorit. Kopi kering digiling dan dicampur dengan cengkeh dan rempah. Disajikan dengan cara disaring menggunakan saringan berbahan rumput pada sebuah cangkir kecil.

Menu makan orang Sudan
Menu makan orang Sudan
Makanan Khusus pada Suatu Perayaan

Ketika Idul Adha atau hari raya Kurban, biasanya orang Sudan menyembelih domba, dan dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan. Pada hari raya Idul Fitri, orang Sudan biasanya mengadakan makan bersama di rumahnya. Mereka akan mengundang keluarga besar dari 1 kakek atau bahkan 1 buyut. Berbeda lagi ketika Maulid Nabawi, biasanya dirayakan dengan minuman spesial seperti sirup manis berwarna pink dan khalawa, manisan yang dibuat dari kacang dan wijen.

Ashida adalah makanan seperti bubur
Ashida adalah makanan seperti bubur
Ekonomi Utama

Sudan adalah satu dari 25 negara paling miskin di dunia. Hal ini disebabkan oleh kekeringan dan kelaparan dan juga oleh hutang luar negeri yang besar. Hal inilah yang membuat Sudan dikeluarkan dari keanggotaan IMF pada tahun 1990. 80% dari penduduk usia kerja Sudan bekerja di sektor pertanian. Akhir-akhir ini juga hasil pertanian di Sudan kurang baik karena rendahnya curah hujan, desertifikasi alias meluasnya gurun pasir, dan kurangnya irigasi. Selain itu, kurangnya pasokan solar juga membuat waktu panen menjadi lambat. Harga solar memang tidak naik, namun karena langkanya persediaan.

Hasil panen pada beberapa tahun terakhir ini kurang bagus karena kurangnya hujan, proses desertifikasi, dan kurangnya sistem irigasi yang baik. Saat ini hanya ada 10% dari tanah pertanian yang bisa dipanen. Mayoritas tanaman pertanian tersebut adalah millet, kacang tanah, wijen, jagung, gandum, dan buah-buahan (mangga, jambu, pisang, dan jeruk).

Di area non pertanian, kebanyakan orang bekerja sebagai peternak sapi, kambing, domba, atau unta. 10% dari tenaga kerja di Sudan bekerja di sektor industri dan perdagangan, dan 6% di sektor pemerintahan. Di sisi lain, ada kekurangan tenaga kerja terampil karena kebanyakan orang yang pintar dan terampil memilih bekerja ke luar negeri untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Saat ini kurang lebih ada 30% angka pengangguran di Sudan.

Orang Sudan mengikat hasil panen
Orang Sudan mengikat hasil panen

Properti dan Pemilikan Tanah

Pemerintah adalah pemilik utama dari tanah di seluruh negeri dan juga mengoperasikan lahan pertanian yang juga sangat luas. Perkebunan kapas di daerah Jazirah adalah yang terluas di Sudan.

Di tempat lain, tanah dikelola oleh beberapa suku. Suku yang berpindah-pindah tidak pernah mengakui suatu wilayah tertentu. Di suku yang lain beda lagi, mereka mengatur kepemilikan tanah dari suku tersebut untuk dibagi-bagi bagi anggota suku. Di wilayah Otoro, bagian timur Sudan, tanah bisa dibeli, diwariskan dan untuk tanah kosong bisa diklaim. Sedangkan orang-orang di Darfur di Sudan bagian barat, tanah dikelola secara administratif oleh beberapa keluarga.

Aktifitas komersil

Pasar adalah pusat aktifitas komersial, baik di desa maupun di kota. Orang-orang Sudan biasa membeli produk yang mereka butuhkan, seperti sayuran, buah-buahan, daging, dan sebagainya di pasar. Mereka juga bisa membeli perabotan sehari-hari di pasar tersebut.

Supermarket sudah ada, apalagi di tahun 2019 ini, banyak pengusaha yang mulai membuka minimarket dengan brand mereka. Ada pula investor dari negara lain yang membuka supermarket dengan fasilitas dan ketersediaan barang yang lebih banyak. Secara penampilan, minimarket dan supermarket lebih bersih dan enak dilihat. Kalau pasar lebih masih terlihat kotor dan jorok.

Suasana di Pasar Omdurman
Suasana di Pasar Omdurman

Industri Utama

Industri utama yang ada di Sudan adalah pemintalan kapas, tekstil, semen, pengolahan minyak (minyak biji bunga matahari, minyak sesame, minyak kacang tanah), gula, sabun dan pengolahan minyak bumi.

Perdagangan

Kapas adalah komoditas ekspor utama Sudan. Dulu, seperempat dari mata uang asing yang masuk ke Sudan berasal dari kapas. Namun produksi kapas tergantung pada iklim yang sering berubah-ubah. Daging sapi dan kambing, sesame, kacang tanah, minyak goreng, dan gum arabic juga diekspor. Produk-produk ini dijual ke Saudi Arabia, Italia, Jerman, Mesir, dan Prancis.

Sudan mengimpor juga barang-barang lain seperti makanan olahan, produk jadi minyak bumi, tekstil, mesin, kendaraan, besi dan baja. Barang-barang ini berasal dari China, Prancis, Inggris, Jerman, dan Jepang.

Orang Sudan berkumpul di pasar
Orang Sudan berkumpul di pasar
Pembagian Tenaga kerja

Dalam kehidupan tradisional Sudan, anak-anak akan mengikut profesi orang tuanya. Bagi mayoritas penduduk Sudan ini artinya melanjutkan pekerjaan bertani. 80% tenaga kerja Sudan bekerja di sektor pertanian, 10% di sektor industri dan keuangan, 6% di pemerintahan, dan sisanya tidak diketahui atau bekerja tanpa pekerjaan permanen.

Saat ini, dengan berkembangnya jaman dan terbukanya akses informasi, anak-anak mampu memilih pekerjaannya sendiri sesuai minat dan bakatnya. Apalagi sekarang di Sudan banyak sekali lembaga training yang melatih seseorang agar untuk menguasai skill tertentu. Namun tetap saja, saat ini Sudan masih kekurangan tenaga kerja terlatih.

Menggembala kambing
Menggembala kambing

Di negara Sudan sendiri memang kebanyakan warganya yang memiliki skill lebih tinggi atau pendidikan lebih maju, atau lulusan luar negeri, mereka akan memilih untuk bekerja di luar negeri. Tujuan utamanya tidak lain adalah karena gaji di luar negeri lebih tinggi. Dan orang Sudan paham bahwa bekerja di dalam negeri tidak akan bisa menghasilkan apa-apa kecuali ia dari awal berasal dari orang tua yang mapan. Yang nantinya akan mewariskan usaha dari keluarganya tersebut. Namun jumlah orang kaya di Sudan amat sedikit. Dengan sedikit kemampuan berbahasa asing, pendidikan sarjana, orang Sudan akan mencari pekerjaan di Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Bahrain atau negara Timur Tengah lainnya.

Sumber: http://www.everyculture.com/Sa-Th/Sudan.html

Leave a Reply