cover page keadaan sudan saat ini

Kondisi Negara Sudan Terkini – 30 Hari Terakhir

Kondisi negara Sudan terkini khususnya satu bulan terakhir ini boleh dibilang sedang panas-panasnya. Media-media besar pun ramai memberitakan apa yang sebenarnya terjadi di Sudan. BBC, Aljazeera, bahkan Kompas pun memberitakan bagaimana kronologi protes yang terjadi hingga terjadinya penembakan membabi buta oleh pihak militer.

Pihak pemerintah pun sampai harus menutup kantor berita Al Jazeera yang berada di Khartoum tanpa ada alasan yang jelas. Working permit yang dimiliki oleh jurnalis Al Jazeera pun dicabut (Sumber: Al Jazeera).

Protester menduduki markas militer
Protester menduduki markas militer

Kronologi Proses Transisi Pemerintahan

Sebagai pengingat saja, berikut kronologi proses transisi pemerintahan di Sudan. Dimulai dari protes kecil, protes besar, Presiden Omar Al Bashir lengser, lalu digantikan oleh pemerintahan sementara yang dikomandoi oleh militer.

  • 19 Desember 2018. Protes di seluruh Sudan dikarenakan langkanya bahan bakar minyak/fuel dan naiknya harga roti.
  • 22 Februari 2019. Presiden Omar Al Bashir mengumumkan adanya status state of emergency. Status ini membolehkan pihak militer untuk menginterogasi, menggeledah dan menangkap orang-orang yang dianggap membahayakan pemerintah yang berkuasa. Protes berlanjut dan direspon dengan adanya penembakan terhadap 5 orang warga sipil.
  • 6 April 2019. Massa mulai menduduki markas militer yang berada di sisi utara bandara internasional Khartoum. Massa tidak akan mau bubar sebelum Presidan Omar Al Bashir turun dari jabatannya.
  • 11 April 2019. Jendral militer mengumumkan bahwa Presiden Omar Al Bashir turun dari jabatan presiden namun pendudukan markas militer berlanjut. Massa meminta pemerintahan dipegang oleh masyarakat sipil.
  • 20 April 2019. Dialog antara pihak militer dan pihak sipil dimulai.
  • 13 Mei 2019. Terjadi penembakan terhadap 6 warga sipil di markas militer.
  • 14 Mei 2019. Militer dan sipil mengumumkan bahwa mereka setuju pemerintahan transisi akan dilakukan selama periode 3 tahun.
  • 16 Mei 2019. Dialog ditunda karena massa memblokade beberapa jalan utama. Pihak meminta membuka barikade tersebut.
  • 28-29 Mei 2019. Mogok kerja dan aksi solidartias di semua bidang. Mulai dari pemerintahan, kantor pelayanan publik, pertokoan hingga ke perusahaan swasta.

Aksi Pembangkangan Sipil

Aksi yang dilakukan oleh warga sipil Sudan ini dinamakan dengan Sudan Civil Disobedience atau dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Pembangkangan Sipil.

Pembangkangan Sipil artinya warga sipil di semua level dan bidang pekerjaan melakukan aksi tidak mau bekerja alias mogok aktivitas. Aksi ini dilakukan oleh buruk pabrik, sopir angkutan umum, karyawan toko, bahkan hingga pekerja bandara dan pekerja bank. Tentu saja aksi ini membuat aktivitas ekonomi di Sudan lumpuh total. Jalanan jadi sepi dan nyaris tanpa ada warga yang beraktivitas.

Aksi Pembangkangan Sipil Sudan: Kota-kota menjadi mati
Aksi Pembangkangan Sipil Sudan: Kota-kota menjadi mati

Secara umum, kronologi kejadian tersebut saya rangkum seperti berikut.

28-29 Mei 2019

Semua pekerja di semua bidang: perbankan, perkantoran, pabrik, kantor pelayanan publik, pertokoan, pasar, bahkan hingga supermarket melakukan mogok kerja. Mereka membuat sebuah tulisan lalu mengunggahnya ke sosial media. Pun di tempat saya bekerja, para karyawan dari level staf hingga operatif dan tenaga harian melakukan mogok masal.

Pabrik multinasional seperti Indomie, Coca Cola, Pepsi, DAL Group, Araak Group, Moaweya Group dan hampir semua perusahaan besar tutup.

Pembangkangan Sipil Sudan: Aktivitas bank lumpuh
Pembangkangan Sipil Sudan: Aktivitas bank lumpuh

Kamis, 30 Mei 2019

Karyawan masuk kerja dan bekerja seperti biasa. Beberapa perusahaan masih ada yang tutup.

Sabtu, 1 Juni 2019

Sabtu adalah hari libur bagi pegawai negeri Sudan (PNS). Perusahaan seperti bank dan kantor pemerintahan juga sebagian besar libur. Semua mempersiapkan libur panjang Idul Fitri.

Minggu-Jumat, 2-7 Juni 2019

Libur lebaran selama 6 hari mulai dari hari Minggu, 2 Juni hingga hari Jumat, 7 Juni. Pada libur yang cukup panjang ini saya berencana untuk jalan-jalan ke daerah Northern Sudan. Rencananya kami ingin menunjungi Marawi, piramida Nuri, dan pulangnya lewat Atbara untuk mengunjungi piramida Meroe di Shendi. Rencana sudah kami buat matang-matang.

Baca juga >> Tempat Wisata di Northern Sudan

Senin, 3 Juni 2019

Bandara Khartoum mogok kerja. Pilot, pegawai imigrasi, pegawai bagian check in penumpang, ground staff dan seluruh karyawan mogok kerja. Cuma ada polisi dan pihak keamaan saja yang beroperasi. Bahkan karyawan bagian loket parkir pun libur. Mobil boleh keluar masuk bandara tanpa perlu ambil tiket parkir.

Bandara mati yang artinya tidak ada kepastian kapan pesawat akan terbang atau mendarat. Calon penumpang yang terlanjur datang ke bandara akhirnya tidur di bandara. Pesawat yang hendak mendarat pun batal mendarat, kembali ke bandara sebelumnya.

Hari ini saya pergi ke bandara, mengantar kawan yang hendak pergi ke Jeddah naik Royal Saudia. Kami menunggu dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00 malam untuk mendapatkan kepastian kapan pesawat terbang. Jalan protokol hingga gang perkampungan diblok oleh warga. Mereka menumpuk batu-batu. Ban dibakar dimana-mana.

Pada hari Senin ini pula akses internet dari telepon genggam dimatikan oleh pihak pemerintah. Akses internet dari rumah, kantor atau hotel masih bisa dilakukan.

Aksi Pembangkangan Sipil Sudan: Tidak ada petugas di bandara
Aksi Pembangkangan Sipil Sudan: Tidak ada petugas di bandara

Selasa, 4 Juni 2019

Bandara masih mogok. Jalan-jalan masih diblok. Semua toko-toko hingga warung kecil tutup. Jalan-jalan sepi nyaris tidak ada aktifitas.

Rabu, 5 Juni 2019.

Lebaran di KBRI. Jalanan dibuka di pagi hari. Orang berangkat ke masjid untuk shalat Ied. Mulai siang hari jalanan mulai diblok lagi. Sore hari jalanan kembali sepi.

Kamis-Jumat, 6-7 Juni 2019

Jalanan masih sepi. Aktifitas sepi. Kendaraan umum belum ada yang beroperasi. Hanya Tuktuk atau ricksaw saja.

Sabtu, 8 Juni 2019

Aktifitas mulai hidup kembali, meski hanya satu-dua saja. Saya sendiri masuk kerja. Karyawan operatif masih banyak yang belum masuk. Jembatan penghubung dari Khartoum ke Bahri dan Omdurman serta sebaliknya masih diblokir oleh warga sipil.

Aktifitas di pabrik berjalan hanya 1 shift, dari jam 7 pagi hingga pukul 3 sore.

Jumat, 14 Juni 2019

Ketika tulisan ini saya buat, internet masih mati. Ini adalah hari ke-12 internet dimatikan oleh pihak pemerintah militer. Saya mencoba berkeliling kota dan berkunjung ke Souq Al Arabi, salah satu pusat perdagangan terbesar di Khartoum. Pasar Souq Al Arabi sudah mulai ramai lagi. Beberapa toko mulai buka, meski belum begitu banyak. Orang-orang juga mulai rame minum teh sambil berkumpul dengan teman-temannya. Para tentara Janjawit masih berkeliling kota sambil menenteng senjata api mereka.

Kota Khartoum kalau dibilang aman ya aman. Dibilang belum aman ya belum karena masih banyak perekonomian yang masih mati dan tentara masih suka berkeliling kota.

Minggu, 16 Juni 2019

Ketika tulisan ini diunggah, ini adalah hari ke-14 internet mati. Saya mengunggah tulisan ini menggunakan internet dari kantor tempat saya bekerja. Itu pun masih sering mati.

Kondisi negara Sudan terkini

Itulah hal-hal yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi negara Sudan terkini. Wabil khususon kota Khartoum. Khartoum adalah tempat yang saya tinggali, sehingga saya tahu banyak kondisi wilayah mana yang sudah kondusif.

Mohon doa dari kawan-kawan semua di tanah air supaya kami diberikan kesehatan dan keselamatan. Kurang lebih ada sekitar 1300 orang buruh migran dan pelajar/mahasiswa yang saat ini berada di Sudan.

Pihak KBRI Khartoum pun sudah menyiapkan safe house bagi warganya yang ingin mengungsi. Lokasi safe house berada di gedung KBRI di 60th Street dan di Wisma Duta Besar RI di Amarat.

Saya sendiri tetap bertahan di rumah sambil terus memperbarui informasi melalui kawan-kawan mahasiswa dan pihak kedutaan.

2 thoughts on “Kondisi Negara Sudan Terkini – 30 Hari Terakhir

Leave a Reply