Pengalaman mendaki Gunung Slamet Tahun 2013

Pengalaman mendaki Gunung Slamet tahun 2013. Saya pertama kali mendaki gunung pada tahun 2009. Itu adalah tahun-tahun ketika mendaki gunung belum menjadi trend seperti sekarang.

Belum ada yang namanya film “5 CM”. Film yang membuat semua orang yang menontonnya ingin jadi pendaki gunung. Ingin traveling ke setiap tempat yang indah di seluruh penjuru Indonesia.

Baca juga tentang:

Bunga Edelweis di Gunung Slamet
Bunga Edelweis di Gunung Slamet

Pendakian pertama saya adalah ke Gunung Merbabu. Semenjak itu pendakian itu terus berlanjut. Gunung Sumbing, Gunung Api Nglanggeran, Gunung Papandayan, Gunung Beser, dan sebagainya.

Cerita kali ini adalah pengalaman mendaki Gunung Slamet tahun 2013. Tahun ini adalah tahun terakhir saya menikmati bangku perkuliahan. Saya semakin banyak mendaki gunung, saya semakin banyak jalan-jalan. Serong kanan serong kiri. Maju mundur oke.

Mendaki gunung sekaligus membersihkan gunung
Mendaki gunung sekaligus membersihkan gunung

Kamis, 15 Agustus 2013

Bus melaju kencang dari arah Kota Gudeg menuju Kota Kripik. Jam tangan menunjukkan pukul 16.30 WIB. Hamparan sawah yang kerontang tersaji di kanan kiri jalan.

Burung-burung pipit beterbangan mencoba pulang menuju sarang. Di beberapa sudut sawah, para petani memanen kedelai. Panen yang meski sedikit itu jauh lebih baik daripada tidak panen sama sekali. Kedelai memang menjadi andalan warga untuk ditanam di musim kemarau. Meski harganya murah, itu lebih baik daripada tanah kosong sama sekali.

Andaikan pemerintah sedikit serius mengelola tata niaga kedelai, jutaan hektar sawah tadah hujan di Jawa-Sumatera tentunya bisa menghasilkan ribuan ton kedelai. Bisa mengurangi impor tentunya.

Mataku sesekali melirik keluar menikmati pemandangan kemarau ini. Suasana sukacita pasca lebaran minggu lalu sudah tidak terlihat lagi. Orang-orang sudah mulai kembali ke aktivitas masing-masing.

Petani pergi ke sawah, pelajar mulai bersekolah, buruh panggul mencari nafkah ke pasar, pekerja ibukota kembali dari mudiknya, dan sebagainya. Aku sendiri, mulai kembali pada aktivitasku semula, mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut dengan skripsi.

Puthut sampai di Purwokerto pukul 11.00 WIB, atau mungkin lebih pagi lagi. Ia datang dengan travel sewaan dari Tegal, kota tempat ia mengais rejeki selama ini. Bingung harus kemana, masjid agung Baitussalam menjadi tempat singgahnya sementara sebelum ke rumahku.

Gilang sampai di kota kripik sekitar sore hari, sekitar pukul 15.00. Ia berangkat dari Kuningan, kota dimana ia lahir. Hujan di sepanjang perjalanan membuatnya harus beberapa kali berhenti untuk menunggu reda. Motor Varionya sampai belepotan terkena air hujan.

Irvan sampai di stasiun Purwokerto pukul 17.00.

Joko sampai di Purwokerto pukul 01.30 dini hari. Tasnya yang berukuran besar berisi tenda menemaninya sejak dari Tangerang.

Ray, sampai di stasiun Purwokerto lebih lambat 30 menit dari Joko, yaitu sekitar pukul 02.00 dini hari.

“Met, bangun Met”, Irvan memanggil. Aku baru sadar, Ray sudah meneleponku 3 kali sekitar 30 menit yang lalu.

Kami menyiapkan motor kami dan melaju menuju stasiun untuk menjemput Ray dan Joko.

Berfoto bersama di depan stasiun
Berfoto bersama di depan stasiun

Jum’at, 16 Agustus 2013

“Mas Sito, mobil pick up siap kan?”, tanyaku pada Mas Sito, kakak sepupuku, yang akan mengantar rombongan pendakian ini ke Bambangan.

“Arep mangkat jam pira si?”, Mas Sito menjawab.

“Ya rampung sarapan, jam 8.00-an lah”, jawabku.

“Ya kabari bae mengko nek kabeh wis siap”, jawab Mas Sito.

Mobil pick up Suzuki Carry melaju dengan kencang dari Desa Karanggude menuju ke Desa Blambangan, basecamp pendakian Gunung Slamet di Kabupaten Purbalingga.

Di tengah perjalanan rupanya mobil Mas Sito tak cukup kuat untuk menaklukan tanjakan Blambangan. Alhasil kami mencari mobil sewaan lain. Dipilihlah Mitsubishi L300 yang mengantarkan kami dari tengah perjalanan menuju jalan akhir di Desa Blambangan.

Kami tiba pas sekali sebelum sholat Jumat dimulai. Selesai melaksanakan sholat Jumat kami bersiap.

Rencana kami mulai mendaki adalah Jumat sore. Malamnya bermalam di tenda di pos 5 atau 6. Lalu paginya mengejar sunrise dan mengikuti upacara bendera 17 Agustus di puncak gunung Slamet.

Berfoto di depan pintu gerbang pendakian Gunung Slamet di Desa Bambangan, Purbalingga
Berfoto di depan pintu gerbang pendakian Gunung Slamet di Desa Bambangan, Purbalingga

Sabtu, 17 Agustus 2013

Jejak langkah orang-orang tak berhenti sejak aku tidur 3 jam lalu. Bunyi ranting terinjak sepatu, sinar senter, dan suara serangga malam menjadi teman tidurku. Hingga akhirnya bivak tempat kami berempat tidur disinari lampu. Ibnu, Melky, Agam, dan Bujel datang.

“Tangi, men, Tangi. Wis isuk. Ayo muncak”, Ibnu membangunkan kami.

“Ayo bro, mumpung masih jam 3, kita kejar sunrise di puncak”, seru yang lain.

Sambil menguap, aku pun membangunkan Rofid, Andreas, dan Angga.

“Ayo Gong, tangi. Rombongane wis teko”, ucapku pada Bagong.

Angga dan Andreas sudah terlebih dahulu bangun dan mulai berkemas. Kulipat sleeping bag, jas hujan, serta kumasukkan botol minum dan kamera saku ke dalam tas.

Kami mulai menanjak.

Pos 1 Pendakian Gunung Slamet Desa Bambangan, Purbalingga
Pos 1 Pendakian Gunung Slamet Desa Bambangan, Purbalingga

Minggu, 18 Agustus 2013

Kami berhasil menggapai puncak Gunung Slamet pada hari Sabtu, 17 Agustus 2013. Ini adalah pendakian saya yang ke-empat.

Perjalanan mendaki gunung menawarkan sebuah pengalaman yang berbeda-beda. Meski gunung yang kita daki sama, barangkali rekan kita yang berbeda. Gunung yang sama, rekan yang sama, barangkali musimnya berbeda. Malamnya berbeda. Siangnya berbeda.

Pemandangan alam dari Gunung Slamet
Pemandangan alam dari Gunung Slamet
Beristirahat di posko Pendakian Gunung Slamet Desa Bambangan, Purbalingga
Beristirahat di posko Pendakian Gunung Slamet Desa Bambangan, Purbalingga
Fans Liverpool mendaki gunung dengan jersey kesayangannya
Fans Liverpool mendaki gunung dengan jersey kesayangannya
Makan siang di basecamp pendakian Gunung Slamet, Desa Bambangan, Purbalingga
Makan siang di basecamp pendakian Gunung Slamet, Desa Bambangan, Purbalingga

Catatan:

Pada pendakian kali ini Joko mengalami cedera kaki. Saya dan teman-teman rombongan yang berada di depan tidak mengetahui hal ini karena sinyal telepon sudah tidak terjangkau. Beberapa teman di rombongan kedua di bawah lah yang membantu Joko turun. Dan mereka akhirnya tidak melanjutkan pendakian dan pulang ke Jakarta.

Saya merasa bersalah akibat kejadian ini. Lain waktu saya ingin mengajak mereka naik gunung lagi. Semoga jauh lebih baik lagi dan semua rombongan bisa naik ke puncak dan turun dengan selamat.

Pengalaman mendaki Gunung Slamet pada tahun 2013 ini saya merasa sedikit kecewa. Yang namanya mendaki, saya masih memegang prinsip: yang naik 5 orang, maka 5 orang itu juga harus mencapai puncak. Kecuali memang keadaan tidak memungkinkan dan semua tim sama-sama menerima dengan lapang dada.

Leave a Reply