khartoum international airport lockdown di sudan

Rasanya 6 Minggu Lockdown di Sudan

Tidak terasa lockdown di Sudan, khususnya di kota Khartoum sudah memasuki minggu ke-6. Dimulai sejak 18 April 2020, lockdown ini terus berjalan hingga kini. Awalnya pemerintah merencanakan lockdown selama 3 minggu dari 18 April sampai 9 Mei, lalu diperpanjang 10 hari hingga 19 Mei. Dan pada akhirnya pemerintah Sudan menetapkan status lockdown diperpanjang sampai 31 Mei 2020.

Bagaimana rasanya lockdown di Sudan khususnya di kota Khartoum, saya akan bagikan pengalaman saya berikut ini.

Ilustrasi pemulangan warga negara Sudan dari luar negeri
Ilustrasi pemulangan warga negara Sudan dari luar negeri

Curfew atau jam malam

Sebelum bulan puasa, jam malam diberlakukan mulai pukul 20.00 malam hingga jam 6.00 pagi. Lalu diubah menjadi jam 18.00 hingga jam 6.00 pagi. Begitu masuk bulan puasa dan lockdown di Sudan total diberlakukan, warga hanya diperbolehkan keluar rumah dari pukul 06.00 pagi hingga jam 13.00 siang. Keperluan yang diperbolehkan pun hanya sebatas membeli kebutuhan pokok, membeli bahan bakar (bensin/solar), atau membeli obat di apotek.

Pada malam hari, polisi berjaga di beberapa titik di kota Khartoum. Mereka akan menindak tegas siapapun yang melanggar aturan lockdown ini. Adapun mereka yang melanggar akan dikenakan denda.

Sudanese Health Minister Akram Ali Al-Tom speaks during a press conference in Khartoum, Sudan, Friday, March. 13, 2020. Sudan reported its first case of the coronavirus , a person who had already died. (AP Photo/Marwan Ali)
Sudanese Health Minister Akram Ali Al-Tom speaks during a press conference in Khartoum, Sudan, Friday, March. 13, 2020. Sudan reported its first case of the coronavirus , a person who had already died. (AP Photo/Marwan Ali)

Toko-toko tutup

Toko atau instansi yang diperbolehkan untuk beroperasi di masa lockdown ini adalah perusahaan makanan, toko roti, minimarket, perusahaan listrik dan air minum, penjual gas, pom bensin, apotek, dan rumah sakit.

Toko elektronik, toko bangunan, restoran, toko baju, bengkel dan sebagainya dilarang beroperasi. Namun namanya manusia, tetap ada saja yang ngeyel. Seperti halnya di Indonesia, di Sudan pun ada pemilik toko yang melanggar aturan tersebut.

Souq Arabi di Kota Khartoum
Souq Arabi di Kota Khartoum buka dari pagi hingga jam 13.00 siang

Mereka yang bekerja seperti biasa

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan pangan, maka pabrik tempat saya bekerja mendapat pengecualian untuk tetap dapat beroperasi di masa lockdown ini. Minggu pertama penerapan lockdown, saya libur di rumah. Dikarenakan surat ijin untuk masuk kerja yang distempel oleh Departemen Tenaga Kerja Sudan belum keluar.

Minggu kedua surat ijin tersebut keluar. Kami mendapat surat ijin untuk masuk kerja. Surat ijin tersebut berupa surat ijin penggunaan kendaraan untuk pergi keluar. Dalam surat tersebut juga tercantum berapa orang yang boleh diangkut dalam 1 mobil. Dengan surat tersebut artinya kita boleh beraktivitas menggunakan mobil kami.

Saya masuk kerja dari jam 9.00 pagi hingga jam 5.00 sore. Kami berusaha untuk pulang kerja sebelum gelap. Selain karena malas berurusan dengan polisi atau tentara setempat, ini juga bulan puasa. Sebisa mungkin saya ingin berbuka puasa di rumah. Lebih enak buka puasa di rumah dibanding buka puasa di pabrik. Pengalaman tahun lalu buka puasa di pabrik, menu makanannya kurang begitu kami sukai. Selain itu juga buka puasa di pabrik penuh dengan kerumunan orang. Kami khawatir terjadi penyebaran virus corona pada acara buka puasa tersebut.

Stand Indomie di salah satu kampus di kota Khartoum
Stand Indomie di salah satu kampus di kota Khartoum

Malam takbiran

Malam takbiran di Sudan tidak seperti malam takbiran di Indonesia yang suasananya lebih semarak. Meski dalam masa PSBB, warga di Indonesia tetap takbiran dari rumah. Beda dengan di Sudan, gema takbir dikumandangkan sekitar 30 menit hingga 1 jam saja setelah shalat Isya dari masjid setempat. Takbiran dari rumah nyaris tidak ada.

Pada malam takbiran ini saya harus keluar rumah karena harus mengambil pesanan opor ayam dan sambal goreng ati ke Bu Rumi untuk nantinya dinikmati besok setelah shalat Ied. Begitu keluar ke jalan raya, rupanya jalan raya begitu ramai. Orang-orang keluar rumah untuk membeli kebutuhan untuk hari raya ini.

Kebetulan malam menjelang Idul Fitri ini bertepatan dengan peringatan 1 tahun revolusi di Sudan. Maka bisa saya lihat beberapa orang melakukan aksi pembakaran ban di jalanan sebagai aksi protes karena ekonominya belum begitu banyak berubah.

Saat ini nilai tukar pound (SDG) terhadap dollar (USD) berada di kisaran 12.000 – 13.000 per 100 USD.

Sebagai perbandingan tahun lalu ketika aksi revolusi nilai tukar SDG terhadap USD berada di angka 6000 – 7000 SDG per 100 USD. Nilai tukar SDG melemah hingga 100% dalam 1 tahun. Maka wajar banyak warga protes karena harga kebutuhan semakin mahal mengikuti nilai dollar.

Warga Muslim Sudan merayakan Idul Fitri selama masa pandemik Covid-19 (Photo by Ashraf SHAZLY / AFP)
Warga Muslim Sudan merayakan Idul Fitri selama masa pandemik Covid-19 (Photo by Ashraf SHAZLY / AFP. Source: Link)

Shalat Ied di rumah

Shalat ied kali tahun 2020 ini dilaksanakan di rumah Pak Bagus. Pak Bagus mengundang mahasiswa dari IUA (International University of Africa) untuk didaulat menjadi imam dan khatib.

Shalat Ied dilaksanakan pukul 7.30 pagi dihadiri oleh kurang lebih 7 mahasiswa dan 7 warga Indomie di Sudan. Selesai shalat kami bersalaman seperti biasa dan dilanjutkan dengan cuci tangan. Setelah itu kami menyantap opor ayam dan sambal goreng ati yang kami ambil tadi malam dari rumah Bu Rumi.

Masa lockdown ini akan terus berlanjut hingga tanggal 31 Mei 2020. Kabarnya awal Juni nanti aktivitas perekonomian akan dibuka kembali. Termasuk yang saya nantikan adalah dibukanya bandara internasional Khartoum untuk kemudian saya bisa pulang kampung.

Baca juga tentang rencana saya untuk resign dan pulang kampung ke Indonesia pada tautan berikut ini.

Rencana kepulangan saya ini tentunya tetap melihat kondisi lapangan. Apabila penyebaran covid-19 di Sudan dan di Indonesia masih berbahaya, saya akan menunda kepulangan ini.

Saya rindu keluarga, tapi saya lebih memilih untuk tidak meningkatkan resiko penularan covid-19 ke keluarga di rumah. Biarlah mudiknya mundur namun keluarga di rumah sehat selalu.

Jaman dahulu orang tua kita berpesan: mangan ora mangan sing penting kumpul.

Kalau jaman sekarang pesan tersebut telah berubah menjadi: kumpul ora kumpul sing penting mangan alias sehat.

Leave a Reply