Gardomin Terpikat Pada Sajadah

Gardomin punya selembar sajadah. Sajadah itu ia peroleh dari kawannya yang bekerja di Turki. Boleh dibilang sajadah ini sebagai tanda balas budi karena dulu Gardomin pernah pinjamkan uang 100 USD untuk kawannya itu. Uang 100 USD sudah dikembalikan, ditambah oleh-oleh sajadah. Gardomin girang bukan kepalang.

Kawan Gardomin bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran mewah di Turki. Di luar negeri, apalagi negara yang pariwisatanya terkenal memang banyak hotel dan restoran mewah. Di sanalah kawan Gardomin mengais rejeki.

Sajadah yang bergambar masjid tersebut Gardomin pajang di ruang tamu. Ia buatkan pigura khusus supaya sajadah yang mahal dari negeri seberang ini tidak kena debu. Dan sajadah ini adalah satu-satunya hiasan di rumah Gardomin. Tidak ada pajangan dinding lain di rumahnya.

“Min, lagi ngapain?”, teriak Panjul yang melihat Gardomin sibuk memasang pajangan dinding.

Gardomin tersentak mendengar teriakan Panjul.

“Sialan kowe, Jul. Ngagetin aja. Habis dari mana?”, tanya Gardomin sambil kepalanya menengok ke luar rumah lewat pintu yang terbuka.

Tanpa perlu meminta ijin, Panjul masuk ke dalam pekarangan rumah Gardomin. Ia melepas sandal jepitnya dan masuk ke dalam rumah Gardomin. Air muka Gardomin berubah. Ia sadar, proses pemasangan pajangan dinding akan bersikap alot.

“Baru kulihat kamu memasang pajangan dinding, Min. Minggu lalu waktu aku kesini, belum ada pajangan macam begini di rumahmu”, Panjul mengomentari sajadah yang dipajang.

“Oh… Sajadah ini. Iya, kawanku SMP-ku baru pulang kemarin dari Turki. Ia menghadiahiku sajadah ini. Gimana menurutmu? Bagus, kan? Kawanku berpesan supaya sajadah ini disimpan baik-baik di rumah”, kata Gardomin.

“Kalau memang benar kawanmu berpesan begitu. Mengapa cuma kau pajang di dinding? Bukankah lebih baik kalau kau pakai untuk sholat”, Panjul membalas.

“Pendapatmu betul Min. Tapi ini sajadah, sajadah langka. Dibeli langsung dari Turki. Dibuat oleh pengrajin khusus yang cuma ada di Turki. Harganya mahal. Aku takut kalau aku pakai untuk sholat nanti akan cepat rusak. Kasihan nanti kawanku kalau datang kemari lalu dilihatnya sajadah ini kusam karena sering diinjak”, Gardomin menimpali.

“Alangkah baiknya tujuanmu, Min. Niatmu baik namun masih belum tepat. Min.. Apa kau pernah mendengar cerita …”

Mendengar Panjul hendak memulai ceritanya, Gardomin segera melepas pajangan sajadah dari dindingnya dan membawanya ke ruang shalat.

“Jul, aku ke belakanga dulu ya. Hari mau hujan. Mau kuangkat dulu itu jemuran”, Gardomin ngeluyur ke belakang meninggalkan Gardomin.

Leave a Reply