kisah inspirasi

bahaya naik gajah

Sebuah tulisan dari akun instagram milik Iqbal Himawan @iqbalhimawan_ yang berbunyi: “Saya Minta Maaf. Saya bertobat. Saya nggak akan pernah naik gajah lagi, meskipun di India. Saya nggak akan bersenang-senang di atas penderitaan makhluk pintar yang punya empati ini.” membuat saya tergelitik. Saya meminta izin dari mba Marrysa Tunjung Sari selaku pemilik akun twitter @poeticpicture untuk menampilkannya ke blog saya. Mengapa jangan naik gajah? Mungkin banyak yang belum tahu bahwa

kebangkitan umat

Hari makin malam. Kendaraan di jalanan makin sunyi. Sebuah obrolan ringan tentang kebangkitan umat antara Zaki Hiromasa dengan Pak Abu Aly, seorang motivator kebahagiaan, saya rangkum dalam tulisan berikut. Semoga bermanfaat. Kata Pak Abu Aly, karier atau prestasi seseorang/tokoh itu ada masa edarnya. Bisa 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan bisa selamanya (timeless). Seseorang/tokoh publik yang bisa bertahan lama masa edarnya di publik adalah mereka yang berkarya dalam

muhasabah diri

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman: 29) Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang akan panik dan menyeru: “Ya Allah!” Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru: “Ya Allah!” Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka

kisah pohon jati

Alkisah, ketika kuda masih jadi satu-satunya alat transportasi, banyak orang masih bepergian ke tempat yang jauh dengan berjalan kaki. Demikian pula yang dilakukan oleh 2 orang pengelana. Yang satu janggutnya panjang memutih dan yang satunya masih muda berbadan tegap. Mereka adalah guru dan murid yang melintasi hutan-hutan di pulau Jawa. Berbulan-bulan mereka berjalan melewati hutan dan perkebunan. Sampai suatu saat mereka tiba di sebuah hutan jati. Cuaca sangat panas, rasa

time for change

Hidup saya pasti berubah jika saya berubah. Semua hal yang terjadi saat ini adalah akibat perbuatan saya sendiri. Dan semua ini adalah tanggung jawab saya sendiri. Semua akan berhenti disini (sambil tunjuk dada sendiri). Semua sudah tertulis dengan jelas di QS ar-Ra’d: 11 إنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka merubah nasib mereka sendiri “. Sebagaimana tertulis pula

siapa kita di masa lalu

Minggu, 14 Juli 2013. Hari ini adalah hari ke-5 puasa di bulan Ramadhan ini. Tulisan ini dibuat ketika sedang turun hujan di tempat kost saya di Yogyakarta. Akhir-akhir ini Yogyakarta memang sering diguyur hujan. Padahal kalau dilihat pada kalender musim, harusnya bulan Juli ini masuk musim kemarau. Entahlah, dunia sudah terbolak-balik sekarang. Musim hujan jadi kemarau, kemarau jadi hujan. Wanita berdandan ala pria, pria berdandan ala wanita. Pada hari ke-5

Manusia Harus Punya Tujuan Hidup

Seseorang yang hidup pastinya memiliki tujuan. Seorang siswa sekolah memiliki tujuan hidup sederhana, yaitu lulus sekolah kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Seorang mahasiswa yang kuliah pastinya memiliki tujuan, yaitu lulus kuliah –meski harus kuliah selama 7 tahun, sampai dosennya bosan lalu meluluskannya. Orang tua rela membanting tulang siang malam karena adanya suatu tujuan, ia harus memastikan anaknya tidak boleh kelaparan malam ini. Bahkan orang yang kita anggap gila sekalipun,

penipu

Penipuan tidak mengenal waktu, entah itu di bulan biasa atau di bulan puasa. Kewaspadaan mesti dijaga kapan pun dan dimana pun. Terutama di bulan puasa seperti ini, dimana sebagian orang kelihatannya lengah karena berpikir orang-orang jahat pun akan bertaubat. Biasanya juga kebanyakan orang saat bulan puasa seperti ini membutuhkan banyak uang untuk keperluan lebaran. Jadi, banyak yang membuka usaha menjual kue-kue lebaran, usaha baju muslim, berjualan kurma, dan sebagainya. Begitu

cerita tentang korek api

Cerita ini adalah cerita tentang korek api. Sebuah cerita lama yang patut untuk ditulis ulang supaya banyak orang yang membacanya. Supaya banyak orang yang bisa mengambil hikmah. Satu pohon dapat dibuat menjadi jutaan batang korek api. Tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon. Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala tetapi tidak mempunyai otak. Oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang

kisah tukang roti bakar

Pukul 20.00, anak lanang baru selesai mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya di perpustakaan kota. Tugas menggambar teknik memang cukup menguras waktu dan tenaga. Ia bergegas memacu vespanya dan pulang ke rumah. Ketika berhenti di lampu merah, perutnya terus saja memanggil minta diisi. Memang sejak dari habis Ashar perutnya sudah mulai keroncongan. Terakhir ia makan waktu Dhuhur tadi.  Ia tak tahan dan menepi ketika melihat sebuah pedagang roti bakar di pinggir