Yogyakarta Purwokerto dengan Sepeda bagian 2

bersepeda dari yogyakarta ke purwokerto

Cerita yang saya tulis 10 bulan lalu saya beranikan untuk saya selesaikan. Cerita ini mesti diselesaikan karena memang: Apa yang sudah kau mulai maka harus kau selesaikan.

Bagi yang belum membaca tentang perjalanan saya menempuh Yogyakarta Purwokerto dengan sepeda, silakan baca cerita sebelumnya di link ini >> Bersepeda Yogyakarta Purwokerto.

Hari kedua itu adalah hari Kamis, 23 Januari 2014. Selepas sholat Shubuh, kira-kira pukul 05.00 pagi, saya mulai mengayuh sepeda saya. Perjalanan pagi memberikan kita keuntungan dalam bersepeda yaitu udara dingin membuat badan tak mudah lelah. Selain itu kitapun bisa menyaksikan bagaimana kesederhanaan di perdesaan. Orang-orang sibuk mengayuh sepedanya menuju pasar, ada juga yang pulang dari pasar, kepul asap kopi pagi di warung kopi, transaksi jual beli rajakaya (istilah untuk dagangan kambing, domba, sapi, kerbau) di pinggir jalan, dan sebagainya. Semuanya begitu ramai, tidak ada yang tidak bekerja.

Perjalanan membawaku semakin jauh hingga ke Bulupesantren. Menyusuri jalan yang tak pernah kulewati sebelumnya. Jalanan desa, padi di kanan kirinya, anak-anak sekolah berangkat dengan sepedanya, para petani, dan semuanya, menemani perjalananku.

Hidungku mulai mencium adanya bau tak sedap ketika aku melewati pasar desa yang aku sendiri lupa namanya. Kesalahan terbesar adalah ketika aku tidak langsung menuliskan ceritaku ini di blog, sehingga aku lupa beberapa nama tempat unik yang kulewati. Di depan jalan, rupanya ada kerumunan orang di bawah gubuk. Aku pelankan sepedaku dan berhenti disana. Oh, rupanya ada bakul serabi. Serabinya unik karena disangan (digoreng tanpa minyak) dan menggunakan kayu bakar kering (tanpa kompor). Aku coba memesan 3 potong serabi dan wow rasanya ketika kuketahui kalau harganya cuma Rp 1.000 per potongnya. Aku takjub dan senang, harga yang murah dan kebahagiaan seorang bapak tua ketika tahu ada pembeli di depannya.

Aku membawa serabi tersebut ke sebuah warung makan tidak jauh dari warung serabi. Aku memesan teh panas di sana. Sarapan kue serabi dengan teh hangat. Kesederhanaan yang mahal harganya. Kenapa mahal? Karena saya harus menempuh Yogyakarta Purwokerto dengan sepeda dulu baru bisa menikmati momen seperti ini.

Kira-kira 30 menit saya sarapan sambil minum teh. Saya beres-beres dan sepeda kembali kukayuh. Masih melewati jalan perdesaan dengan kesederhanaannya. Aku melaju terus hingga aku sampai di Gombong, beralih dari jalan perdesaan ke jalan raya.

Perjalanan di jalan raya cukup menguras tenaga. Kondisi cuaca yang panas kala itu harus ditambah dengan pasnya asap knalpot dari truk besar. Kondisi itu membuatku berulang kali berhenti dan beristirahat.

Kukayuh sepeda tanpa kenal lelah. Sebentar behenti, sebentar pula aku kayuh lagi. Dari kota Gombong, Tambak, Sumpiuh, Kemranjen, Buntu, Rawalo, Kebasen, terus lurus hingga sampai Bendungan Serayu. Pukul 03.00 sore saya sampai di tepi Sungai Serayu dan beristirahat di sana. Aku memijit-mijit kaki, tiduran di bawah pohon, minum air dan bersyukur bisa sampai sejauh ini. Pengalaman menempuh Yogyakarta Purwokerto dengan sepeda adalah pengalaman yang indah bagiku.

Pukul 03.30 sore aku bersiap diri. Rumah sudah menanti. Tahu bahwa sebentar lagi sampai ke rumah, semangatku semakin membara. Sepeda kukayuh dengan cepat. Melewati liak-liuk jalan raya di pinggir Sungai Serayu, terus ke utara melewati Patikraja dan dengan bersusah payah berhasil melewati tanjakan hingga sampai di kota Purwokerto.

Di Sawangan (nama daerah di Purwokerto, dekat dengan alun-alun kota, juga tempat membeli beberapa oleh-oleh khas Purwokerto dan Banyumas) saya semakin tersenyum. Kukayuh terus melewati rel kereta stasiun Purwokerto, melewati Karanglewas, terus ke barat hingga sampai desa tercinta, Desa Karanggude Kulon.

Pukul 05.00 sore saya sampai di rumah, di Desa Karanggude Kulon. Rasa bahagia dan syukur karena berhasil melewati 210 KM dari Yogyakarta ke Purwokerto. Sambutan dan pelukan hangat dari Ibu menghapuskan semua rasa lelahku.

Perjalanan sejauh 200 km ini ditempuh dalam waktu 31 jam. Aku berangkat pukul 10.00 pagi dari Yogyakarta dan sampai di rumah pada pukul 17.00 sore. Sebuah perjalanan yang indah dan layak dikenang. Selesai dari ini, aku siap untuk perjalanan amazing yang lainnya.

yogyakarta purwokerto dengan sepeda
Parkir sepeda di jembatan dalam perjalanan yogyakarta purwokerto dengan sepeda
melewati rel kereta dalam perjalanan yogyakarta purwokerto dengan sepeda
Melewati rel kereta api di daerah Karanganyar, Kebumen

Leave a Reply