Ikut dalam ajang Alexandria 10K Run 2015

Alexandria 10K Race 2015 by Alex Runners

 

Bisa mengikuti ajang lari Alexandria 10k Race 2015, berlokasi di tepi laut Mediterania adalah sebuah pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Waktu itu adalah awal musim dingin. Diawali dengan iseng browsing mengenai klub lari di Egypt, saya menemukan klub lari Alex Runners. Dan saya mengenal lebih dulu Alex Runner dibanding Cairo Runner.

Kamis malam, 22 Oktober 2015 saya berangkat menuju Alexandria menggunakan minibus. Dengan biaya sebesar 50 pound, saya berangkat pukul 1 malam. Minibus tersebut nyaman, senderan punggungnya tinggi sampai kepala. Jadi kamu bisa tiduran dengan nyaman. Jarak Cairo-Alexandria sendiri cuma 3 jam perjalanan, kalau malam hari malah cuma 2 jam perjalanan. Kamu bisa naik minibus ini dari Mahatah Ramses, di depan stasiun kereta api Ramses. Layanan bis ini tersedia 24 jam. Kamu bisa naik kapanpun kamu mau.

Untuk menuju Alexandria dari Cairo, kita akan melewati Alexandria Desert Road, jalanan mulus bebas hambatan, dimana pedal gas bisa kita pacu di atas 150 km/jam. Dan malam itu, minibus yang saya naiki rata-rata berlari diatas kecepatan 120 km/jam. Kok tau? Saya intip lah. hehe.. Dan sesuai rencana, minibus tersebut sampai di Alexandria pada pukul 3.00 pagi lebih sedikit. Minibus berhenti di depan stasiun kereta api Alexandria atau biasa disebut Mahatah Masri. Dari situ, kamu bisa berjalan kaki menuju corniche, mungkin sekitar 30 menit. Saya sendiri belum pernah berjalan kaki dari stasiun ke corniche, ehehe..

Alexandria Menjelang Sunrise

Berbekal Google Map, saya mencari meeting point untuk acara lari Alexandria 10K Run 2015. Pagi itu kami harus bertemu jam 6.00 pagi di Alex Corniche, tepatnya di Latino Café, lokasi starting point untuk acara lari hari ini. Setelah tahu lokasinya, saya bergegas mencari taksi. Satu hal yang harus diingat, kalau mau naik taksi di Egypt, tanya dulu harganya di awal. Kalau sudah deal, barulah kalian naik. Suatu kali saya pernah naik taksi tanpa dulu deal harga dengan si sopir, ujungnya saya mangkel karena si sopir memberi harga selangit padahal jaraknya dekat.

Latino café sendiri berada di tepi laut Meditarenia. Lokasinya menghadap ke laut langsung. Lokasinya cukup asik ya untuk sekedar ngopi bareng kawan atau pasangan. Tak jauh dari lokasi cafe, terdapat tanah lapang, semacam taman, dimana kamu bisa melihat sunrise. Tempatnya cozy banget pokoknya.

Daftar ulang

Selesai melakukan daftar ulang, dan membayar biaya lari 60 pound, saya duduk sambil menikmati sunrise. Waktu itu saya sendirian dari Cairo. Awalnya saya pikir saya satu-satunya orang Asia yang ikut acara ini. Rupanya tidak. Disana saya berkenalan dengan beberapa teman dari Malaysia yang notabene juga berasal dari Cairo. Selain teman-teman dari negeri jiran, saya juga chitchat dengan beberapa teman dari daerah lain. Anak-anak muda di Alex relatif lebih ramah dan enak diajak bicara.

Pukul 06.30 panitia memberi isyarat untuk melakukan pemanasaran. Senam aerobic menjadi pilihan panitia yang didominasi anak-anak muda Alexandria.

Warming Up Before Start

Pritttt…. Pukul 07.00 lari dimulai. Saya yang sebelumnya jarang berlari, sempat empot-empotan juga. Olahraga lari memang harus rutin dilakukan. Minimal seminggu sekali. Begitu kamu berhenti berlari untuk jangka waktu yang lama, badan kamu akan sedikit kesulitan untuk mengatur ritme lari. Waktu itu pun saya begitu. Sebentar-bentar saya berjalan santai untuk mengatur napas. Malu saya karena disalip beberapa kali oleh gadis-gadis mesir. Hahaha…

Satu jam lebih sepuluh menit, saya berhasil menyelesaikan lari 10 kilometer Alexandria 10K Run 2015. Saya cukup berbangga karena setelah sekian lama absen lari, saya masih bisa menyelesaikan 10 km dalam waktu kurang dari 90 menit. Pencapaian internasyenel pertama di luar negeri. Ciyee…

Panitia memberi medali, voucher diskon dari sponsor, dan sebotol air minum. Starting point di Latino Café dan finish di depan benteng Qaitbay. Benteng Qaitbay sendiri adalah salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Alexandria. Sambil menikmati semilirnya angin mediterania, ditemani music disco, bercengkerama dengan teman-teman baru. Kadang kita tak sadar, bahwa banyak orang sedang memimpikan hidup yang tengah kita jalani ini.

End.

Leave a Reply