bersepeda dari yogyakarta ke purwokerto

Yogyakarta Purwokerto dengan Sepeda bagian 1

 

Berkelana tidak hanya membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku.
— Andrea Hirata

Saya kuliah di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Setelah 6 (enam) bulan menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan untuk pergi-pulang dari kost-kampus, saya memutuskan untuk memulangkan sepeda motor tersebut dan berganti kendaraan dengan sepeda. Dan dengan iseng saya berkata: Jikalau kelak saya lulus kuliah, saya akan pulang ke Purwokerto menggunakan sepeda ini.

Dan waktu itu pun datang. Janji iseng saya waktu semester saya dulu harus saya penuhi. Saya akan bersepeda Yogyakarta Purwokerto menggunakan sepeda fixie.

Rabu, 22 Januari 2014 pukul 10.30 saya memulai perjalanan itu. Dimulai dari Tambakbayan, Babarsari, Yogyakarta saya mulai mengayuh sepeda tersebut. Cuaca begitu panas hari itu. Menyenangkan sekali karena sebuah pencapaian kadang kala memang perlu ditebus dengan bersenang-senang. Saya memilih bersenang-senang dengan sepeda, menempuh perjalanan Yogyakarta-Purwokerto sejauh 210 KM. Memenuhi janji bersepeda Yogyakarta Purwokerto seorang diri.

Jalanan Jogja-Bantul sangatlah padat. Mobil dan sepeda motor berlomba dengan derasnya debu siang hari. Terkena sinar matahari membuat badan saya mulai menghitam, peluh bercucuran, dan air mata berjatuhan. Okesip. Ini lebay. Perjalanan berjalan lancar hingga mencapai Bantul pada pukul 11.30, tepatnya di kawasan Masjid Agung Bantul. Saya menghentikan sepeda dan masuk ke masjid untuk beristirahat dan menjalankan kewajiban. Beristirahat di Masjid Agung rupanya memberi saya energi yang cukup besar. Badan terasa bugar dan mata pun menjadi melek setelah sebelumnya mengantuk. Pukul 13.00, setelah berkemas, saya melanjutkan perjalanan lagi.

Jalanan Bantul-Srandakan-Temon adalah jalanan yang cukup sepi, beraspal halus, tidak banyak dilalui truk besar dan lebih didominasi sepeda motor. Kondisi ini membuat saya dapat mengayuh sepeda dengan mudah. Setiap 30 menit sekali saya berhenti dan minum air mineral yang saya bawa. Ya, tas ransel saya yang cukup besar itu memang saya isi dengan banyak air mineral, karena kondisi hari itu memang begitu panas. Perjalanan yang saya rencanakan akan berjalan panjang itu membuat persiapan saya begitu matang. Tsahhh. Sekitar pukul 16.30 saya sampai di Temon dan bersiap menjajal jalanan sepi yang di kanan kirinya tidak ada rumah penduduk, hanya tanah pertanian. Ya, itulah jalan yang kata orang dulu banyak rampoknya. Jalan Daendels pantai selatan.

Melewati jalan Daendels yang sepi dengan hamparan tanah pertanian yang ditanami tebu, pepaya california, semangka, melon membuat kondisi badan saya tidak begitu lelah. Ya, karena angin laut yang sepoi-sepoi mampu mengusir rasa lelah. Pun udara di persawahan yang sejuk dan segar membuat metabolisme tubuh menjadi lancar dan birahi semakin menjadi-jadi. Oke, ini sama sekali tidak berhubungan. Wus.. wus.. wus.. sepeda berjalan dengan cepat di jalanan lurus beraspal halus nan sepi dari kendaraan.

Pukul 18.00, waktu itu adzan Maghrib saya sampai di daerah Grabag, Purworejo. Memang badan sudah sempoyongan karena sepanjang jalan Daendels saya tidak berhenti. Selangkangan sudah mati rasa karena memang sadel/jok sepeda saya itu ternyata tidak mendukung untuk perjalanan jarak jauh. Alhasil saya melipir, copot sandal, ambil air wudhu, dan sholat di masjid terdekat.

Kedatangan saya di masjid di daerah Grabag tersebut disambut baik oleh imam masjid. Mereka menanyakan tujuan perjalanan saya dan mengobrol ngalor-ngidul. Dengan baiknya pun mereka memberikan saya sepiring kue, 2 gelas teh hangat, dan sepiring nasi berlauk pauk. Rejeki memang tidak kemana. Logistik yang cukup banyak itu membuat badan saya yang tadi lemas, kembali bugar. Rupanya malam itu saya tidak bisa melanjutkan perjalanan karena hujan turun deras. Kondisi tersebut membuat saya memutuskan untuk bermalam di masjid tersebut.

Atas ijin dari sang imam masjid saya bermalam di masjid. Selepas shalat Isya, pukul 8 malam saya langsung beristirahat. Tidak lama saya tertidur. Perjalanan hari ini sangat menguras tenaga. Tapi hari esok masih akan berjalan. Saya tidur dengan menutupkan jarit (selendang tradisional Jawa) pada sekujur badan karena nyamuk di masjid tersebut banyaknya minta ampun. Hujan di luar semakin deras, nyamuk di dalam masjid semakin ganas. Aku tidur di rumah Tuhan.

Bersambung ke tulisan >> Bersepeda Yogyakarta Purwokerto

jembatan kali progo di bantul
Melewati jembatan kali Progo di daerah Bantul
bersepeda yogyakarta purwokerto dengan sepeda fixie
Beristirahat di jalan Daendels, pantai selatan
pertanian pepaya california di Grabag, Purworejo
Matahari terbenam di daerah Grabag, Purworejo dengan latar kebun pepaya California

2 thoughts on “Yogyakarta Purwokerto dengan Sepeda bagian 1

Leave a Reply