Keadaan Kota Khartoum

6 Produk Indonesia Yang Masuk ke Sudan

Selama kurang lebih dua (2) tahun tinggal di Sudan saya memperhatikan semakin hari semakin banyak produk Indonesia yang masuk ke Sudan. Apa saja produk Indonesia di Sudan tersebut?

1. Indomie

Indomie yang ada di Sudan awalnya diproduksi di Arab Saudi. Indomie tersebut lalu diimpor oleh trader ke negara Sudan. Saat ini Indomie di Sudan tidak lagi diimpor dari Arab Saudi. Indomie sudah memiliki pabrik sendiri di kota Khartoum, Sudan.

Pada tahun 2019 Indomie sudah tersedia di lebih dari 80 negara di dunia. Baik di Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga Amerika. Terutama di negara-negara yang sudah memiliki pabrik mie sendiri, Indomie tersedia di warung-warung kecil di pelosok desa. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa Indomie adalah produk asli dari negara mereka.

Indomie rasanya enak, mudah dibawa, praktis, dan mudah disajikan. Kemudahan inilah yang menjadikan produk Indomie menjadi jajanan favorit anak-anak kecil hingga orang dewasa.

Stand Indomie di salah satu kampus di kota Khartoum
Stand Indomie di salah satu kampus di kota Khartoum

2. Baterai ABC

Baterai ABC Alkaline ukuran AAA atau AA biasa dijual di toko buku dan supermarket di Sudan. Ketersediaan baterai kecil ukuran AAA atau AA memang sangat terbatas di Sudan. Saya tidak melihat ada brand baterai lain di Khartoum ini.

Baterai kecil ini memang sangat penting. Biasa dipakai untuk remote AC dan remote TV. Sudan negaranya panas, boleh dibilang cuacanya cuma ada dua (2), musim panas dan musim panas sekali. Menyalakan AC adalah hal wajib ketika musim panas ini tiba. Kalau tidak ada remote, bagaimana AC bisa menyala.

Kalau untuk baterai mobil, saya lihat banyak produk dari Turki. Produk-produk baterai untuk kebutuhan otomotif belum diisi oleh produk asal Indonesia.

Bateria ABC Alkaline AA di Sudan
Bateria ABC Alkaline AA di Sudan

3. Tropicana Slim dari Nutrifood

Gula non kalori Tropicana Slim tersedia di banyak sekali supermarket dan minimarket di kota Khartoum. Entah untuk kota lain di luar Khartoum, mungkin juga ada. Begitu saya lihat labelnya, ternyata Tropicana Slim ini diimpor oleh salah satu trader di Khartoum.

Sebuah produk kalau sudah diimpor oleh trader berarti memang si trader sudah paham mengenai pasar di negaranya. Asal di-maintain dengan baik, bukan tidak mungkin Tropicana Slim bisa jadi alternatif gula pilihan utama bagi orang Sudan.

Orang Sudan memang terkenal minum minuman manis dengan jumlah gula yang tinggi. Kalau saya beli teh atau kopi di pinggir jalan, saya selalu minta gulanya dipisah. Karena kalau tidak dipisah, si penjual biasa memberikan 3-4 sendok makan gula pasir ke cangkir yang kami pesan. Maka tidak heran, banyak orang gemuk di Sudan karena ia gemar makan dan minum minuman manis.

Tropicana Slim bisa jadi alternatif bagi mereka untuk tetap minum dan makan makanan manis namun kalorinya rendah.

Gula Rendah Kalori - Tropicana Slim Nutrifood di Sudan
Gula Rendah Kalori – Tropicana Slim Nutrifood di Sudan

4. Sambal Indofood produksi Arab Saudi

Sambil Indofood yang beredar di Sudan berasal dari Arab Saudi. Ini bisa dilihat dari labelnya yang merupakan produksi Pinehill Arabia Food Ltd. Memang di Arab Saudi sudah ada pabrik saus yang memproduksi sambal dengan brand Indofood. Salah satunya yang tersedia di Sudan yaitu Sambal Indofood Rasa Cabe Lampung.

Sambal Indofood di Sudan
Sambal Indofood di Sudan

5. Arang kayu

Kali pertama melihat arang asal Indonesia ini saya kaget. Apa iya ini betul dari Indonesia. Ternyata betul. Arang untuk membakar sate atau untuk barbeque ini dibungkus secara bagus dan menarik. Dan tentu saja ada tulisan Made In Indonesia.

6. Sabun Harmony

Sabun dengan bau khas buah-buahan ini tersedia di apotik dan supermarket. Harganya pun salah satu yang termurah dibanding sabun-sabun pabrikan PnG atau Unilever. Namun kendala proses impor ini yang seringkali membuat stok sabun Harmoni ini kadang ada kadang kosong.

Sabun Harmony - Produk Indonesia di Sudan
Sabun Harmony – Produk Indonesia di Sudan

Produk dengan harga murah memang masih menjadi pilihan utama bagi warga Sudan. Tidak heran di Sudan ini lebih banyak produk asal China dibanding produk dalam negeri. Mulai dari sisir, peniti, hingga barang besar seperti mobil dan alat berat. Produk China memang dimana-mana ada, harganya pun murah.

Mengenai produk Indonesia di luar negeri ini kalau tidak salah pernah diterbitkan dalam bentuk buku dengan tajuk “Made in Indonesia: The Best Indonesian Products of Top 100 Exporters“. Buku ini diterbitkan oleh Katadata pada akhir September 2013.

Bagi teman-teman yang memiliki produk bagus dan ingin menyasar pasar di luar negeri sebaiknya memang sudah menyiapkan divisi khusus mengenai pasar luar negeri. Divisi ini bisa ditugaskan untuk mempelajari ijin impor di setiap negara yang dituju. Selanjutnya menetapkan negara mana yang hendak jadi sasaran utama.

Negara-negara di Timur Tengah
Negara-negara di Timur Tengah

Adanya buruh migran atau TKI tentunya membantu brand asal Indonesia agar terus berkibar. Apalagi brand makanan. Orang Indonesia sangat menyukai Indomie, sambal ABC bahkan Mie Sedaaap kalau memang tersedia. Buruh migran inilah yang biasanya membeli produk Indonesia tersebut. Ia memperkenalkannya kepada orang lokal dan memintanya mencoba. Begitu sudah mencoba, tinggal sedikit saja ia jadi suka. Lalu ia akan memutuskan membeli lagi.

Selain TKI, brand-brand Indonesia juga banyak menyisir negara yang banyak didatangi oleh para pelajar-pelajar Indonesia yang sekolah atau kuliah di luar negeri. Pelajar dan mahasiswa ini biasanya bangga kalau ada brand Indonesia yang masuk di negara tersebut. Ia akan memperkenalkannya kepada teman-teman di asrama atau di kampusnya.

Baca Juga >> Restoran Indonesia Berpotensi Jadi Etalase Produk Asli Indonesia

Restoran Indonesia di Luar Negeri Seharusnya Bisa Menyediakan Produk Indonesia Sekalian Sebagai Etalase Produk Made in Indonesia
Restoran Indonesia di Luar Negeri Seharusnya Bisa Menyediakan Produk Indonesia Sekalian Sebagai Etalase Produk Made in Indonesia

Sebagai informasi saja, banyak pelajar dan TKI di negara tempatnya merantau ia membuka toko kecil. Mereka menggunakan ruang di dalam kamar atau rumahnya dan menjual produk-produk Indonesia. Memang ini illegal karena menjual tanpa ijin. Tapi mereka melakukannya untuk menambah pendapatan atau uang jajan. Yang paling sering dibawa biasanya rokok. Bentuknya kecil, pasarnya ada dan ukurannya kecil.

Brand-brand ini seharusnya memberikan perhatian terhadal hal-hal kecil ini. Peran pelajar/mahasiswa dan TKI di luar negeri tidaklah kecil. Merekalah promoter dan marketer yang tidak dibayar sepeser pun dari pemilik brand.

Leave a Reply