belajar pertanian singkong bersama pak tarso

Jauh-jauh datang dari California untuk belajar pertanian organik di Kebun Pak Tarso

Pagi itu tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi dengan nada dering unik. Bunyi khusus tersebut menandakan adanya email yang masuk ke inbox. Saya buka. Rupanya ada email dari WWOOF Independent.

Ada seseorang dari California, USA yang berniat untuk datang ke kebun kami Kebun Pak Tarso untuk belajar tentang pertanian organik. Sesegera mungkin saya membuka aplikasi WWOOF di laptop saya dan membalas pesan tersebut.

Baca juga tentang:

Intinya kami bersedia untuk menjadi tuan rumah atau host untuk program WWOOF. Obrolan dari menu message di website WWOOF berlanjut ke obrolan via email supaya lebih cepat responnya. Akhirnya kami sepakat untuk term and conditions program pertanian organik WWOOF di Kebun Pak Tarso.

Saya menerima pesan langsung di akun WWOOF dan juga melalui email
Saya menerima pesan langsung di akun WWOOF dan juga melalui email

Term and Condition WWOOF Indonesia

Term and Condition yang disepakati antara lain sebagai berikut:

  • Host menyediakan kamar tidur tersendiri kepada volunteer
  • Host menyediakan kamar mandi (sharing)
  • Host menyediakan dapur (sharing)
  • Host menyediakan makanan secara cuma-cuma
  • Host menyediakan akomodasi ke lahan pertanian dan ke kota apabila volunteer membutuhkan sesuatu untuk dibeli secara pribadi

Hak dan tanggung jawab volunteer:

  • Membantu host bekerja di lahan pertanian apapun itu selama pekerjaan tersebut masih bisa dijalankan secara masuk akal
  • Membersihkan baju sendiri
  • Menjaga kebersihan kamar tidur
  • Menjaga nama baik keluarga host yang ditinggali
  • Menjaga norma-norma yang berlaku pada daerah setempat
  • Berhak untuk mengambil libur yang bisa dipakai untuk berlibur pada tempat-tempat wisata terdekat
  • Berhak untuk mendapatkan keamanan dan diperlakukan secara sopan
Bersiap menuju sawah
Bersiap menuju sawah

Pada hari pertama Dana datang ke rumah ada pegawai desa yang datang. Pada hari sebelumnya kami memang sudah memberitahukan kepada pihak pemerintah desa bahwa ada relawan datang dari California, USA yang akan membantu pekerjaan kami di sawah.

Kebetulan pegawai desa yang datang Pak Bau Ridwan. Beliau berkesempatan berdiskusi dan berfoto bersama. Artinya secara resmi pemerintah desa menerima kunjungan Dana tersebut.

Bersantai bersama di dapur seusai dari sawah
Bersantai bersama di dapur seusai dari sawah

Memetik Cabe di Sawah

Dana bangun setiap pagi dan langsung bergabung bersama Pak Tarso pergi ke sawah. Pada hari-hari pertama, Dana mendampingi Bu Tarso memetik cabe di sawah.

Cabe yang ditanam adalah jenis cabe rawit yang terkenal pedas. Pemetikan cabe di lahan kurang lebih 1 hektar dilakukan mulai pagi hari supaya cuaca tidak terlalu panas. Perlu diketahui bahwa cabe yang ditanam berada di bawah naungan pohon pepaya. Cabe rawit ini memang sengaja ditanam secara tumpang sari dengan pohon pepaya California.

Bulan Januari hingga Februari ini hampir setiap hari turun hujan selepas Dhuhur. Begitu pula dengan kegiatan pemetikan cabe ini, sekitar pukul 13.00 harus segera diakhiri karena hujan mulai turun.

Mengontrol Kondisi Pohon Pepaya

Musim penghujan harus ekstra hati-hati. Kelembaban udara dan curah hujan yang tinggi bisa membuat kondisi pepaya mudah terkena penyakit. Oleh karena itu, kondisi kesehatan pohon pepaya harus diperhatikan baik-baik.

Kontrol pohon pepaya California dimulai dengan mengecek saluran drainase. Saluran ini harus dipastikan tidak membuat pohon papaya terendam air dalam jangka waktu lama. Air tidak boleh berdiam terlalu lama di sekitar pohon pepaya karena bisa membuat akar busuk. Air harus mengalir ke selokan.

Buah pepaya yang masih kecil harus dicek kondisinya. Papaya yang baik ujungnya pepat dan tidak runcing. Papaya yang bentuknya melengkung dan lancip ujungnya harus dibuang sedari kecil. Hal ini supaya pepaya yang bentuk bagus dapat tumbuh sempurna hingga besar.

Kebun Pepaya California
Mengontrol kebun Pepaya California

Panen Singkong

Pada bulan Januari ini, Pak Tarso sedang panen singkong. Singkong yang ditanam adalah jenis singkong slentheng. Singkong ini memiliki ciri khas kulit dalamnya berwarna merah jambu alias pink. Warna pink ini bisa kamu lihat kalau kamu sudah mengupas lapisan kulit ari yang berwarna cokelat yang berada di luar.

Dana mencoba sendiri bagaimana dia mencabut pohon singkong dengan susah payah. Mencabut pohon singkong memang membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi untuk seorang wanita. Beruntung sekali bulan ini adalah musim hujan sehingga tanah terasa lebih lembek sehingga pohon singkong mudah untuk dicabut.

Belajar tentang pertanian organik singkong bersama Pak Tarso
Belajar tentang pertanian singkong bersama Pak Tarso

Selesai mencabut pohon singkong, pohon tersebut dirobohkan ke tanah dan mulai dipangkas. Memangkas umbi singkong dari pohonnya juga membutuhkan skill khusus. Skill ini bertujuan untuk meminimanilisir scrap umbi singkong. Di sisi lain, singkong pangkasan harus serapi mungkin.

Daun singkong juga harus dipangkas untuk kemudian dilayukan. Daun singkong ini nantinya digunakan untuk pakan ternak kambing.

Pagi hari mencabut singkong, memangkas umbi dan daun, selanjutnya pada siang hari membawa daun singkong yang sudah layu dan kering untuk dibawa ke kendang kambing.

Untuk singkongnya sendiri sudah ada tukang yang membawa.

Singkong jenis slentheng digunakan untuk bahan baku kue-kue tradisional. Memang jenis singkong ini cocok untuk dibuat makanan disbanding jadi bahan tepung tapioka.

Dana mencabut pohon singkong dengan tenaga super
Dana mencabut pohon singkong dengan tenaga super
Memotong umbi singkong dari batang pohonnya
Memotong umbi singkong dari batang pohonnya

Jalan-jalan ke Jogja, Borobudur dan Prambanan

Pada akhir pekan yaitu hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi relawan WWOOF. Dana mendapat hari libur dan ia pergi ke Jogja bersama Tio.

Dana berkesempatan pergi ke Yogyakarta dan jalan-jalan di sekitar Tamansari, Malioboro, dan Kraton Jogja. Selain itu ia juga mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Membuat Gethuk

Pada satu kesempatan, Pak Tarso membawa pulang singkong slentheng yang dipanen di sawah. Pak Tarso hendak mengajari Dana bagaimana cara membuat gethuk dengan cara tradisional.

Pertama-tama singkong dikupas dari kulitnya. Singkong dicuci hingga bersih menggunakan sikat hingga tidak ada lagi kotoran yang melekat. Selanjutnya singkong dipotong kecil-kecil dimasukan ke dalam panci. Singkong tersebut dikukus selama kurang lebih 1 jam hingga kondisinya lunak dan matang sempurna hingga ke dalam.

Pada waktu yang sama irisan gula jawa ditaruh di dalam mangkok kaca dan dikukus bersama singkong. Hal ini agar gula jawa menjadi cair. Gula jawa dipergunakan untuk campuran gethuk agar rasanya manis.

Dana berkesempatan untuk membuat gethuk itu sendiri. Ia menuang singkong yang baru saja matang dikukus ke dalam lumpang. Lumpang adala batu persegi yang ada lubang di tengahnya. Singkong dituang sampai habis dan mulai di-thuthu.

Menuthu gethuk membutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih 1 jam. Tenaga yang digunakan juga cukup besar karena gethuk harus betul-betul hancur hingga tidak bersisa.

Dana mencoba membuat gethuk
Dana mencoba membuat gethuk

Pamitan Untuk ke Bali

Setelah tinggal bersama Pak Tarso dan keluarga selama 10 hari, Dana akhirnya berpamitan. Ia hendak melanjutkan perjalanannya ke Bali untuk berlibur.

Dana sangat berterima kasih kepada Pak Tarso dan keluarga atas kesempatan belajar tentang pertanian organik khususnya di daerah Purwokerto.

Ikut mengambil kambing dari warga dan membawanya ke pasar
Ikut mengambil kambing dari warga dan membawanya ke pasar
Berfoto bersama tim Kebun Pak Tarso
Berfoto bersama tim Kebun Pak Tarso

Sampai jumpa Dana. Semoga liburanmu di Bali menyenangkan. Dan semoga kita berkesempatan untuk bisa berjumpa lagi.

Leave a Reply